Pengamat: Simpan Kata Sandi Pengguna, Facebook Memalukan

CNN Indonesia | Sabtu, 06/04/2019 16:48 WIB
Pengamat: Simpan Kata Sandi Pengguna, Facebook Memalukan Ilustrasi Facebook. (Foto: CNN Indonesia/Harvey Darian)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pengamat keamanan siber dari Communication Information System Security Research Center (CISSReC) Pratama Persadha mengatakan skandal Facebook yang menyimpan kata sandi 600 juta pengguna sangat memalukan.

Pratama mengungkapkan hal tersebut setelah muncul laporan dari KrebsOnSecurity yang menemukan 600 juta kata sandi pengguna disimpan oleh Facebook. Kata sandi ini disimpan dalam format teks biasa yang bisa dicari oleh lebih dari 20 ribu karyawan Facebook.

"Kasus ini jelas sangat mencoreng nama Facebook. Sekaligus menjadi peringatan bahwa tidak ada sistem yang aman, sehingga sebaiknya para pengguna media sosial dan platform lainnya untuk berkala mengganti password," ujar Pratama saat dihubungi CNNIndonesia.com, Jumat (5/4).


Pratama mengatakan Briang Krebs, orang di balik laporan ini mengutip pegawai senior Facebook bahwa kata sandi tidak terenkripsi tersebut sudah sejak tahun 2012. Jadi data tersebut telah terbuka kurang lebih selama tujuh tahun

"Dengan kata sandi yang terbuka tersebut, memungkinkan karyawan Facebook melihat dan mengaksesnya. Sementara Facebook sendiri baru mengakuinya beberapa bulan kemudian," ucap Pratama.

Selain mengganti kata sandi secara berkala, Pratama mengimbau pengguna Facebook untuk mengaktifkan otentikasi dua langkah. Disamping itu, pengguna Facebook dan media sosial lainnya juga harus mematikan akses ke layanan pihak ketiga yang bisa mengakses profil.

Ia mencontohkan akses ke layanan pihak ketiga menjadi awal dari skandal pembobolan data yang melibatkan Cambridge Analytica setahun silam.

"Salah satu langkah paling penting adalah mematikan akses pihak ketiga ke media sosial kita. Di Faceboo dan Twitter sering kita memberikan akses ke pihak ketiga seperti kuis dan layanan aplikasi lainnya. Kasus Cambridge Analytica bermula dari aplikasi pihak ketiga," terangnya. (jnp/evn)