Israel Balas Serangan Siber Palestina Pakai Serangan Fisik

CNN Indonesia | Senin, 06/05/2019 19:36 WIB
Israel Balas Serangan Siber Palestina Pakai Serangan Fisik Ilustrasi (REUTERS/ Amir Cohen)
Jakarta, CNN Indonesia -- Israel mengumumkan kalau serangan yang mereka lakukan ke Gaza di Palestina pada akhir pekan lalu adalah balasan dari serangan dunia maya dari pasukan Hamas. Atas serangan siber ini, Israel langsung membalas dengan serangan fisik lewat udara terhadap sebuah gedung yang menjadi markas Hamas yang ada di Gaza, Palestina.

Disebut-sebut, balasan itu dilakukan pertama kalinya yang dilakukan militer Israel melalui kekerasan fisik secara real time terhadap serangan dunia maya.

Pasukan Pertahanan Israel pun mengkonfirmasi serangan balasan tersebut melalui akun resmi Twitter mereka @IDF dengan mencuitkan, "Kami menggagalkan upaya serangan dunia maya Hamas terhadap Israel. Setelah operasi defensif siber berhasil, kami menargetkan bangunan tempat operasi siber Hamas. HamasCyberHQ.exe telah dihapus."

 


Serangan bertubi-tubi yang dilakukan Pasukan Pertahanan Israel dan Hamas terjadi selama tiga hari berturut-turut. Hamas menembakkan lebih dari 600 roket ke Israel. Setidaknya 27 warga Palestina dan warga sipil Israel menjadi korban dan ratusan orang luka-luka.

Selama pertempuran itu, tak disebutkan apa yang menjadi target Hamas dalam melancarkan serangan dunia maya terhadap Israel. Namun melalui The Times of Israel, salah seorang juru bicara Pasukan Pertahanan Israel mengatakan bahwa serangan itu membahayakan kualitas hidup warga Israel.

Selain mengunggah cuitan, Pasukan Pertahanan Israel juga mengunggah video saat mereka melakukan serangan udara ke markas Hamas.



Meskipun Pasukan Pertahanan Israel mengakui bahwa mereka telah menghentikan serangan, namun banyak yang bertanya-tanya apakah balasan itu sesuai atau tdak. Hal ini dapat menimbulkan kekhawatiran saat perang modern berlangsung, seperti yang diberitakan The Verge.

Melalui ZDNet, seorang penasehat keamanan dunia maya dan privasi independen dari Universitas Oxford Lukasz Olejnik ikut menanggapi serangan Israel terhadap serangan siber Hamas. Olejnik mengatakan bahwa negara harus mempertimbangkan berbagai faktor agar tidak memicu konflik yang tidak perlu.

"Setiap respon potensial perlu mempertimbangkan banyak faktor seperti keadaan yang kompleks termasuk intensitas konflik dan ancaman yang dirasakan," kata dia.

"Sementara Anda dapat membayangkan dengan sempurna aktivitas dunia maya yang tidak melewati ambang konflik, bom biasanya diluncurkan karena telah melewati ambang batas. Namun tidak ada ahli strategi yang harus mempertimbangkan serangan kinetik terhadap aktivitas maya yang tidak berdampak ketika tidak terlibat dalam suatu konflik." (din/eks)