NASA Ungkap Temuan Baru Cincin Saturnus dari Robot Cassini

Tim, CNN Indonesia | Sabtu, 15/06/2019 08:02 WIB
NASA Ungkap Temuan Baru Cincin Saturnus dari Robot Cassini Saturnus. (REUTERS/NASA/JPL-Caltech/Space Science Institute/Handout via Reuters)
Jakarta, CNN Indonesia --
NASA merilis temuan material cincin milik Saturnus dari robot ruang angkasa Cassini yang mengakhiri misi eksplorasi pada 2017 silam. Berdasarkan data yang dikumpulkan, cincin itu memiliki material yang kompleks seperti diukir oleh massa yang tertanam di dalam cincin.
Selain itu, tekstur dan pola cincin menggumpal layaknya sebuah sedotan serta terungkapnya warna kimia cincin dan perubahan suhu. Penemuan itu diperoleh dari empat instrumen Cassini yang mengambil pengamatan terdekat ke cincin utama.
Melalui laman resminya, NASA juga mengungkap bulan-bulan kecil yang tertanam di cincin Saturnus berinteraksi dengan partikel-partikel lain di sekitarnya. Oleh karena itu, penemuan ini juga memberikan bukti lebih lanjut bahwa cincin merupakan pintu gerbang ke dalam proses cakram astrofisika yang membentuk tata surya.
Para ilmuwan menyimpulkan bahwa di tepi luar cincin utama Saturnus, terdapat serangkaian goresan serupa dengan goresan pada cincin F yang memliki panjang dan orientasi yang sama.
Ilmuwan NASA menilai goresan itu muncul akibat dari material-material yang ada di sekeliling Saturnus dan mengenai cincin pada saat yang bersamaan. Hal ini menunjukkan bahwa cincin Saturnus tidak dibentuk dari puing-puing komet yang menabrak cincin itu.
"Temuan ini merupakan rincian baru tentang bagaimana bulan memahat cincin dengan berbagai cara untuk membentuk tata surya. Selain itu, piringan cincin yang ada di Saturnus berkembang akibat pengaruh massa yang tertanam di dalamnya," kata Ilmuwan Cassini, Matt Tiscareno.
Para ilmuwan juga menemukan teka-teki baru yang muncul pada gambar cincin Saturnus, terdapat tiga tekstur berbeda yang terkandung dalam cincin yaitu bergumpal, halus dan bergaris-garis.
"Ini [tiga tekstur cincin] memberitahu kita seberapa banyak bahan yang tersedia. Pasti ada sesuatu yang berbeda terkait karakteristik partikel, yang mungkin memengaruhi ketika dua partikel cincin saling bertabrakan," jelas Tiscareno.
Misi robot Cassini Huygens merupakan proyek kerja sama antara NASA, ESA (Badan Antariksa Eropa, dan Badan Antariksa Italia. Sedangkan JPL bertugas untuk mengelola misi untuk Direktorat Misi Sains NASA di Washington.
Selain itu JPL juga merancang, mengembangkan dan merakit robot Cassini. Sementara antena radio dibangun oleh JPL dan Badan Antariksa Italia, dibantu dengan sejumlah anggota tim dari AS dan beberapa negara di Eropa.



(din/age)