Huawei telah menggugat CNEX di Pengadilan Negeri AS di Sherman, Texas karena penyelewengan rahasia dagang yang melibatkan teknologi kontrol memori dan untuk 'membajak' karyawannya. Juri menolak klaim tersebut.
Namun, juri pun menemukan pendiri CNEX gagal memberi tahu perusahaan tentang pengajuan patennya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini adalah kemenangan untuk supremasi hukum dan untuk standar global perilaku korporasi yang etis," kata Penasihat Umum CNEX, Matthew Gloss.
Huawei telah mengajukan gugatan untuk membatalkan larangan penjualan AS di hadapan hakim Texas yang sama dengan gugatan rahasia dagang. Dua unit Huawei secara terpisah menghadapi dakwaan di pengadilan federal di Seattle karena berkonspirasi mencuri rahasia T-Mobile US antara 2012 dan 2014.
Salah satu pendiri CNEX, Yiren Huang yang keluar dari Huawei dan ikut mendirikan CNEX beberapa hari kemudian.
Huang dituduh melanggar kontrak kerja yang mengharuskannya untuk memberi tahu perusahaan tentang paten apa pun yang diperolehnya dalam satu tahun setelah meninggalkan perusahaan.
Namun, hal tersebut tidak memberikan kerusakan Huawei. Danks menyebut hasilnya sebagai vonis campuran dan mencatat perusahaan kecewa karena juri tidak memberikan ganti rugi setelah mendapati Huang melanggar perjanjian kerjanya.
Huawei telah menggugat CNEX dan salah satu pendirinya, Huang pada 2017 dan 'mengejar' setidaknya US$85,7 juta kerusakan dan hak atas teknologi kontrol memori perusahaan di San Jose, California.
Dia lebih lanjut menggambarkan gugatan itu sebagai runtutan intimidasi.
Amerika Serikat secara efektif telah melarang agen-agennya untuk membeli peralatan telekomunikasi Huawei dan melarang perusahaan-perusahaan AS untuk melakukan bisnis dengan Huawei.
AS mengklaim perusahaan tersebut merupakan ancaman terhadap keamanan nasional. (age)