Dilansir laman resmi NASA, robot yang dirancang seperti rotor (sebuah alat mekanik yang berputar atau baling-baling) itu akan diluncurkan pada 2026 dan diperkirakan akan tiba di permukaan Titan pada 2034.
Rotor Dragonfly akan terbang ke puluhan lokasi yang menjanjikan di Titan untuk mencari proses kimia prebiotik yang juga dimiliki oleh Bumi. NASA mengklaim bahwa misi "pemburu kehidupan" Dragonfly menjadi misi pertama yang menerbangkan seluruh muatan sains.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dragonfly memanfaatkan data Cassini (pesawat ruang angkasa yang mempelajari Saturnus) untuk memilih periode cuaca yang tenang untuk mendarat di satelit Titan bersamaan dengan lokasi pendaratan yang aman.
Titan merupakan bulan terbesar kedua di tata surya dan ukurannya pun lebih besar dari Merkurius. Saat mengorbit di Saturnus, jarak Titan sekitar 1,4 miliar kilometer dari Matahari.
"Sungguh luar biasa untuk memikirkan rotor ini terbang bermil-mil melintasi bukit pasir organik Bulan terbesar di Saturnus. Dragonfly akan mengunjungi dunia yang penuh dengan beragam senyawa organik, yang merupakan unsur pembangun kehidupan dan mengajarkan kita tentang asal usul kehidupan itu sendiri."
Misi Dragonfly terpilih sebagai bagian dari program New Frontiers yang mencakup misi New Horizons ke Pluto dan Kuiper Belt, Juno ke Jupiter, dan OSIRIS-Rex ke asteroid Bennu.
Penyelidik Utama NASA Elizabeth Turtle akan memimpin misi itu yang berbasis di Laboratorium Fisika Terapan Universitas Johns Hopkins di Laurel, Maryland, AS. Selain itu, program ini juga dikelola oleh Marshall Space Flight Center NASA di Huntsville, Alabama.
[Gambas:Video CNN] (din/chs)