Gerhana matahari biasanya terjadi dalam hitungan menit. Sehingga, jika pengamat ingin memerhatikan proses terjadinya gerhana secara utuh, mereka perlu memandang matahari dalam waktu lama. Untuk itu disarankan menggunakan pelindung untuk bisa mengamati gerhana matahari dengan aman. Hal ini seperti diungkap peneliti astronomi di Observatorium Bosscha, Moedji Raharto.
"Matahari biasa pada dasarnya memang bisa merusak mata jika dipandang terus-terusan. Lagian siapa yang tahan juga kalau mau lihat tanpa henti? Jika memaksakan diri ya sudah pasti bahaya," ucap Moedji saat berbincang santai dengan CNN Indonesia beberapa waktu lalu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jangan terlalu lama kalau ingin menyaksikan gerhana. Tentu saja bisa merusak mata yang memicu kebutaan karena retina terbakar. Kalau bisa pakai kacamata khusus," lanjut mantan Kepala Observatorium Bosscha itu.
"Bisa picu kebutaan kalau dilihat terus-menerus pakai mata telanjang. Wajar jika orang penasaran, namun memang tidak boleh dipaksakan sebab kerusakan yang timbul pada retina mata tidak secara langsung," ungkap Rhorom dalam obrolan terpisah.
Gerhana matahari total yang terjadi hari ini tidak bisa diamati di Indonesia. Namun, Lembaga Astronomi dan Penerbangan (LAPAN) menyebut masyarakat Indonesia dapat melihat fenomena gerhana matahari cincin pada 26 Desember 2019.
Gerhana Matahari cincin merupakan gerhana yang terjadi ketika bayangan Bulan hanya menutupi bagian tengah Matahari. Sehingga menyisakan bentuk cincin api di sekeliling bayangan Bulan. (din/eks)