Walkman, Kaset, dan Seutas Memori

CNN Indonesia, CNN Indonesia | Senin, 08/07/2019 18:34 WIB
Walkman. (Foto: Istockphoto/jirkaejc)
Jakarta, CNN Indonesia -- Walkman sempat menjadi tren pada sekitar tahun 90-an di Indonesia. Kemunculan walkman merevolusi cara orang mendengarkan musik di tempat umum. Walkman kala itu memiliki pesaing dari Jerman yakni Stereobelt, namun dengan harga yang lebih mahal.

Saat itu kebanyakan orang menggunakan radio transistor, pemutar musik boom box, atau pemutar musik mobil. Namun pengguna membutuhkan alat yang lebih privat untuk mendengarkan musik. Hal ini diakui Hanna Samosir, yang mulai mendengarkan musik menggunakan Walkman saat ia masih dibangku sekolah dasar.

"Dulu waktu SD enggak boleh beli, karena sudah ada tape di rumah. Tapi akhirnya bisa dengerin pas abang beli. Lebih enak aja bisa dengerin sendiri di kamar. Ngga udah bawa-bawa tape, berat," katanya kepada CNNIndonesia.com, Jumat (5/7).


Popularitas walkman bahkan tak tergerus meski ketika memasuki era compact disc (CD). Sony berhasil membuat beragam inovasi hingga membuat istilah 'walkman' populer sebagai pemutar musik portabel kendati merupakan buatan merek elektronik lain. Walkman bahkan sempat menjadi kata umum buat menyebut pemutar kaset yang bisa dibawa-bawa. Layaknya Aqua yang menjadi sebutan umum untuk air minum dalam kemasan.



Walkman juga membawa kenangan cinta semasa sekolah seperti dicuitkan @SRini.



Tak jarang Walkman pun menjadi teman di kala berduka atau sendiri, seperti dicuitkan akun @iqbalsuderajat.



Hal serupa juga diungkap oleh Renata Angelica, pegawai swasta. Menurutnya ketika SD ia tak memiliki teman, sehingga hanya Walkman yang menemaninya saat pergi, pulang, dan selama di sekolah. Hanna pun mengakui hal yang sama.

"Walkman adalah teman setia gua waktu SMP. Soalnya waktu itu ngga punya temen gara-gara di bully," tuturnya. (eks/eks)
1 dari 2