Fenomena ini memungkinkan pengamat untuk melihat dengan jelas cincin Saturnus yang berbentuk piringan. Efek khusus ini membuat cincin Saturnus yang berbentuk piringan tampak bercahaya akibat pencahayaan matahari dari sudut yang tepat, seperti dikutip dari In The Sky.
Menurut peneliti Planetarium, Widya Sawitar puncak oposisi planet Saturnus bakal terjadi pada tengah malam.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sudut ini membuat cincin yang terbuat dari es itu memantulkan cahaya lebih banyak sehingga bercahaya seperti lampu.
Lihat juga:Ilmuwan Temukan Cincin di Sekitar Uranus |
"Program hanya sampai dengan pukul 20.00 WIB. Jadi tidak sampai waktu oposisi," terang Widya lagi.
Oposisi Saturnus berikutnya akan terjadi pada 21 Juli 2020, 2 Agustus 2021, dan 14 Agustus 2022.
Planet Saturnus akan berada di posisi terbaik untuk pengamatan sepanjang Juli hingga September 2019. Disebut posisi terbaik karena Saturnus tengah berada satu garis dengan Bumi dan Matahari.
Orbit Saturnus-Bumi-dan Matahari tengah berada di satu garis lurus (Screenshot via NASA) |
Kecerahan ini membuat pengamat bisa mengamati cincin es disekeliling planet tersebut dengan teleskop. Cincin Saturnus akan terlihat seperti lautan partikel es halus yang ada di cincin Saturnus akibat diterangi cahaya Matahari.
Planet ini juga terlihat besar karena planet itu tengah berada pada orbit terdekatnya dari Bumi. Mengutip Earth Sky, ketika posisi planet sejajar superior dengan Bumi dan Matahari, biasanya merupakan posisi terdekat planet-planet itu terhadap Bumi. Planet superior adalah planet yang orbitnya ada di luar orbit Bumi (planet lain kecuali Merkurius dan Venus).
[Gambas:Video CNN] (eks)
Orbit Saturnus-Bumi-dan Matahari tengah berada di satu garis lurus (Screenshot via NASA)