Saturnus Terhalang Awan Tebal di Langit Jakarta

CNN Indonesia | Selasa, 09/07/2019 20:12 WIB
Saturnus Terhalang Awan Tebal di Langit Jakarta Saturnus. (Foto: NASA)
Jakarta, CNN Indonesia -- Penceramah Planetarium Jakarta Azis Taz Sunjaya mengatakan Saturnus sulit terlihat malam ini di langit Jakarta karena awan tebal akibat hujan.

"Kalau langit cerah kita sebenarnya bisa lihat Bulan, Jupiter, dan Saturnus ya memang pada hari ini kendala cuaca," kata Ajiz kepada CNNIndonesia.com di Planetarium Jakarta, Selasa (9/7).

"Jadi tadi sore sebelum Maghrib sudah turun rintik-rintik hujan, kebetulan dari rintik-rintik hujan itu menghasilkan awan yang sangat tebal sehingga menghalangi objek yang mau kita amati dengan teleskop," sambungnya.


Azis menambahkan teleskop yang digunakan untuk mengamati Saturnus yakni Takahashi, jenis reflektor Newtonian berdiameter 16 sentimeter.

Namun menurutnya, orang awam tidak bisa melihat planet dengan cincin itu menggunakan mata telanjang. Tanpa menggunakan teleskop, Saturnus hanya terlihat seperti bintang terang.


"Kalau kita melihat dengan teleskop, kita bisa melihat cincinnya jelas. Bedanya kalau diamati dengan mata, itu sebenarnya kita anggap Saturnus itu seperti bintang yang cerah," jelas Azis.

Tak Terlalu Besar

Jika cuaca mendukung kata Azis, pengunjung dapat melihat jelas cincin Saturnus yang ukurannya tidak terlalu besar mirip kacang dan dapat melihat satelit yang ada di sekitar planet.

"Kita bisa melihat cincinnya jelas meskipun ukurannya tidak terlalu besar ya kira-kira hanya seperti kacang tapi cincinnya sudah jelas, ada sebuah titik yang terang di sekitarnya itu satelit yang terbesar," tuturnya.


Menyoal titik tertinggi Saturnus, dia mengatakan tergantung dari posisi planet itu sendiri, kemungkinan titik tertinggi Saturnus bisa saja saat siang hari.

"Bisa jadi semakin awal malam dia akan mencapai titik tertinggi atau bisa jadi ketika masih sangat siang dia sudah mencapai titik tertinggi jadi tergantung dia di posisi di langit," ucap Azis.

Seperti yang diberitakan sebelumnya, fenomena alam ini juga disebut oposisi Saturnus karena Bumi tengah mengorbit di antara Saturnus dan Matahari. Secara singkat, Matahari-Bumi-Saturnus tengah nampak berbaris lurus di bidang tata surya.

Saturnus merupakan bagian dari planet superior, yaitu planet yang orbitnya ada di luar orbit Bumi (planet lain kecuali Merkurius dan Venus).

Posisi Saturnus yang berlawanan dengan matahari sepanjang Juli hingga September, membuat planet itu mendapat pantulan sinar lebih baik dari Matahari. Sehingga membuat Saturnus tampak lebih terang dari biasanya ketika diamati dari Bumi.

[Gambas:Video CNN] (din/asa)