Musim Kemarau, BPPT Sebut Hujan Buatan Sulit Dilakukan

CNN Indonesia, CNN Indonesia | Selasa, 16/07/2019 20:45 WIB
Musim Kemarau, BPPT Sebut Hujan Buatan Sulit Dilakukan Ilustrasi (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi) menyebut teknologi modifikasi cuaca menggunakan hujan buatan akan sulit dilakukan pada musim kemarau. Sebab, pada musim ini kemunculan awan sangat jarang.



Meski demikian, Kepala BPPT Hammam Riza tidak menampik kemungkinan modifikasi cuaca untuk dicoba dilakukan.


"Tidak ada salahnya dicoba. Selama musim kemarau, ada kalanya dinamika atmosfir memungkinkan terbentuknya awan. Meski, kemungkinan untuk berhasil rendah," tuturnya.

Menurutnya, modifikasi cuaca ideal dilakukan di awal musim kemarau pada masa transisi pada bulan April dan Mei.

Lebih lanjut, Hammam menjelaskan bagaimana teknologi modifikasi cuaca seperti hujan buatan bisa mengurangi polusi. Menurutnya, hujan buatan membongkar polutan yang berkumpul di lapisan inversi yang menjadi sarang polutan.

"Melalui TMC maka BPPT akan membongkar lapisan udara inversi sehingga polutan bisa naik ke atmofir yang lebih tinggi sehingga berdampak pada berkurangnya kepekatan polutan," jelas Hammam ketika dihubungi CNNIndonesia.com lewat pesan teks, Selasa (16/7).

Lapisan inversi terletak di stratosfer, yaitu lapis kedua atmosfer, setelah toposfer. Di lapisan toposfer ini cuaca terbentuk. Lapisan inversi terletak ketinggian 20-50 km.

"Polutan di udara yang bersumber dari apapun akan menjadi terasa lebih pekat selama musim kemarau karena adanya lapisan udara inversi. (Lapisan ini) yang mengakibatkan polutan terjebak pada udara di dekat permukaan tanah (di toposfer)," jelasnya lagi.

Namun ketika ditanya berapa persentase pengurangan polusi menggunakan metode modifikasi cuaca ini, BPPT belum bisa mengungkap data tersebut.

"Presentasenya blm bisa kami janjikan," tandasnya. (eks/eks)