Sosok Perempuan di Balik Misi ke Bulan

AFP, CNN Indonesia | Sabtu, 20/07/2019 09:48 WIB
Selain Neil Amstrong yang berada di garda terdepan dalam perjalanan ke Bulan 50 tahun lalu, ada para perempuan cerdas yang mewujudkan langkah Amstrong di Bulan. Margaret Hamilton saat menerima penghargaan oleh Barack Obama. (SAUL LOEB / AFP)
Pada 20 Juli 1969, ketika astronaut Apollo 11 mencapai bulan, seluruh masyarakat dunia merayakan langkah pertama manusia di Bulan.

Di antara ratusan juta orang tersebut, Margaret Hamilton menjadi salah satu yang 'lega' dibandingkan dengan orang lain. Dilansir dari TIME, saat itu Hamilton merupakan tim MIT yang bekerja dengan NASA untuk menyiapkan software yang dibutuhkan untuk pendaratan di bulan.

"Saya ingat berpikir, Ya Tuhan, itu berhasil," kata Hamilton kepada TIME.


"Saya sangat senang. Tetapi saya lebih senang karena mengetahui software tersebut bekerja daripada fakta bahwa kami mendarat. "

Pasalnya, tidak ada jaminan semuanya akan berjalan lancar. Faktanya, tepat sebelum pendaratan di bulan seharusnya terjadi, alarm berbunyi menunjukkan bahwa tidak ada cukup ruang pada komputer untuk perangkat lunak pendaratan untuk bekerja secara efektif.

Ternyata radar mengirim data yang tidak perlu ke komputer, membebani dengan informasi yang berlebihan.

Pekerjaan yang telah dilakukan Hamilton membantu memungkinkan komputer untuk mencari tahu dari beberapa proses yang harus dilakukan mana yang paling penting.
Perbaikan itu memberi NASA kepercayaan diri untuk melanjutkan pendaratan di bulan.

Hamilton kemudian diberi Penghargaan Luar Angkasa Luar Biasa dari NASA untuk pekerjaannya pada sistem Apollo tersebut. Dia juga dikreditkan dengan menciptakan istilah 'rekayasa perangkat lunak.

Bagian dari apa yang membuat Hamilton bekerja sangat efektif adalah dia menguji semuanya dengan sangat ketat, dalam sebuah simulator yang dapat menunjukkan sistem di tempat kerja, dan hubungan antara perangkat lunak, perangkat keras dan astronot.

"Kita tidak bisa menjalankan sesuatu ke bulan," katanya.

Tapi mereka bisa melakukan banyak tes di lapangan. Menganalisis kesalahan yang muncul selama pengujian, tim Hamilton menemukan bahwa hampir tiga perempat dari mereka adalah kesalahan antarmuka, seperti konflik dalam waktu atau prioritas.

Karena kode komputer ada pada kartu, seorang insinyur perangkat lunak dapat menulis kode yang memberi tahu komputer berapa banyak kartu yang akan dimajukan.

Jika seseorang kemudian menambahkan kartu di tengah saat mengerjakan kode, nomor itu akan salah. Hamilton menyadari bahwa masalah itu dapat dihindari.

"Kita sudah mengerjakan ini sejak Apollo, atau mulai dengan Apollo," katanya.

Ia mendirikan Hamilton Technologies Inc pada tahun 1986, di mana ia melanjutkan pekerjaannya dengan Bahasa Sistem Universal.

Saat ini Hamilton menantikan pendaratan manusia ke Mars.

"Saya harap bahwa kita melanjutkan eksplorasi." (age/age)
HALAMAN :
1 2
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK