Astronaut Butuh Pakaian Antariksa Baru untuk Kembali ke Bulan

AFP, CNN Indonesia | Minggu, 21/07/2019 05:20 WIB
Astronaut Butuh Pakaian Antariksa Baru untuk Kembali ke Bulan Ilustrasi. (Reuters/NASA)
Jakarta, CNN Indonesia -- Insinyur ruang angkasa Pablo de Leon telah merancang dua prototipe pakaian antariksa untuk Bulan dan Mars. Walaupun belum resmi menandatangani kontrak dengan NASA, de Leon menilai NASA harus melakukan 'gebrakan' agar misi mendatang dapat berjalan.

"Di satu sisi, ada perintah untuk sampai ke Bulan pada 2024, dan di sisi lain, kami belum mengembangkan pakaian antariksa baru sejak 1977," kata de Leon kepada AFP dalam kunjungan ke Kennedy Space Center di Florida.

Pakaian yang saat ini dikenakan oleh astronaut AS di Stasiun Luar Angkasa Internasional dirancang pada tahun 1970-an, dan diperbaiki sejak saat itu. Hanya sedikit yang masih dalam kondisi baik.
Untuk saat ini, NASA berfokus pada pengembangan roket, kapsul, dan pendaratan untuk membawa astronot ke permukaan bulan.


Tetapi bagi de Leon, anggaran keseluruhan NASA saat ini sekitar US$21 miliar per tahun tidak cukup untuk memenuhi tenggat 2024

Debu Bahaya

De Leon dan timnya telah mengembangkan setelan NDX-1 untuk Mars dan NDX-2 untuk Bulan.

Pakaian luar angkasa merupakan perangkat yang kompleks seperti pesawat ruang angkasa. Pasalnya, pakaian ini perlu mengatur suhu, tekanan dan kelembaban.

Pakaian tersebut pun melindungi astronaut terhadap radiasi dan memegang sistem komunikasi.
"Semua ini dalam pakaian," katanya.

Dibutuhkan dua jenis pakaian. Pertama, untuk mengapung di ruang angkasa. Misalnya, jika perbaikan diperlukan untuk bagian luar kapal.

Kedua, untuk menjejakkan kaki di dunia asing, yang merupakan spesialisasi de Leon.

Ketika seorang astronaut tidak berbobot, setelan itu kaku di bawah pinggang karena kaki seseorang hampir tidak ada gunanya.

Tetapi di permukaan Bulan atau Mars, para astronaut perlu berjalan, dan pakaian mereka harus cukup ringan dan fleksibel agar mereka dapat bergerak maju, mundur, melompat, membungkuk, dan menangani alat.
Masalah serius lainnya adalah debu bulan. Astronaut Apollo belajar 50 tahun yang lalu bahwa debu tersebut sangat abrasif, menembus lapisan atas pakaian mereka dan memotong seperti kaca.

"Dalam tiga hari pakaian itu akan terkoyak," kata de Leon.

Misi Apollo terpanjang berlangsung selama 75 jam di Bulan, tetapi para astronaut tidak menghabiskan seluruh waktu mereka di luar modul bulan.

Bulan tidak ada sistem cuaca dan tidak ada erosi sehingga kerikil, hingga partikel terkecil sangat tajam dan dapat memotong seperti gergaji.

Adapun Mars, yang AS rencanakan untuk dicapai pada 2030-an, tanahnya mengandung perklorat, bahan kimia yang beracun bagi manusia.

"Akan perlu untuk mengisolasi semua yang telah berhubungan dengan luar segera setelah para astronot melepas jas mereka."

Habitat di Mars perlu dirancang untuk melakukan dekontaminasi.

Untuk saat ini, de Leon dan spesialis lain di seluruh AS menunggu berita dari NASA, yang belum memberikan kontrak, dan tidak memiliki tenggat waktu untuk melakukannya. (age/age)