Butuh Rp430 Triliun untuk 'Lompatan' Manusia ke Bulan

CNN, CNN Indonesia | Sabtu, 20/07/2019 15:00 WIB
Butuh Rp430 Triliun untuk 'Lompatan' Manusia ke Bulan Ilustrasi. (Reuters/NASA)
Jakarta, CNN Indonesia -- Setelah lima dekade lalu manusia pertama telah menjejakan kaki di Bulan, NASA telah mengumumkan rencana besar untuk 'mengembalikan' manusia ke Bulan. 

Namun, selain masalah teknis, dana menjadi kendala yang cukup berat. Dilansir dari CNN, NASA membutuhkan dana sekitar US$20 miliar hingga US$30 miliar atau sekitar Rp287 triliun hingga Rp430 triliun.

Administrator NASA Jim Bridenstine mengungkapkan kepada CNN Business bahwa tingginya kebutuhan dana membuat pentingnya kenaikan anggaran NASA sekitar US$4 miliar menjadi US$6 miliar pertahun.


Pernyataan Bridenstine tersebut akhirnya menguak estimasi dana yang harus dikeluarkan NASA untuk pertama kalinya. Misi mendatang tidak lebih mudah dari 50 tahun lalu.

Pasalnya, NASA bercita-cita membawa dua astronaut yang melakukan 'lompatan' di Bulan, yakni perempuan dan laki-laki. Program yang dinamakan Artemis ini bertujuan untuk membangun kehadiran yang berkelanjutan di Bulan.

Perkiraan biaya US$20 hingga US$30 miliar ternyata 'lebih murah' dari perkiraan sebagian orang. Bridenstine mengakui bahwa spaceflight bisa berbahaya dan tidak dapat diprediksi, sehingga praktis tidak mungkin untuk menetapkan label harga yang akurat.

"Kami sedang bernegosiasi di dalam pemerintahan," katanya.

"Kami sedang berbicara dengan [Kantor Manajemen dan Anggaran federal], kami sedang berbicara dengan Dewan Antariksa Nasional."

Namun, menang atas anggota parlemen kemungkinan akan menjadi bagian yang paling sulit.
Mike Pence mengumumkan pada Maret bahwa administrasi Trump ingin mempercepat ambisi bulan NASA, dan meluncurkan misi kru pertama pada 2024, bukan 2028, jadwal waktu lembaga sebelumnya.

Semua perangkat keras yang dibutuhkan NASA tertunda karena jauh melebihi anggaran atau belum ada.

Sejauh ini, NASA secara resmi hanya meminta tambahan US$1,6 miliar untuk Artemis. Bridenstine menilai tambahan tersebut sebagai 'uang muka' untuk keseluruhan program.

Bridenstine juga harus menang atas Demokrat yang sudah skeptis terhadap misi ke Bulan.

Para kritikus juga menunjukkan bahwa NASA telah mencurahkan miliaran dolar ke program luar angkasa selama 15 tahun terakhir, meskipun manusia masih belum kembali ke permukaan bulan sejak misi terakhir Apollo pada tahun 1972.

Program Apollo juga terjadi di lingkungan politik yang sangat berbeda. Penerbangan terjadi selama perselisihan Perang Dingin yang pahit dengan Uni Soviet, dan Amerika Serikat sedang ambisius untuk mengalahkan musuhnya ke permukaan bulan.

Berbagai sumber mengungkap, Amerika Serikat menghabiskan sekitar US$25 miliar untuk program Apollo pada 50 tahun lalu atau hampir setara dengan US$150 miliar saat ini.

Beberapa orang khawatir bahwa NASA pada akhirnya akan mengalihkan dana dari program-program lainnya, yang meliputi misi eksplorasi robot, ilmu bumi dan studi iklim dan penelitian ilmiah penting lainnya ke misi ini.

[Gambas:Video CNN] (age/age)