Bising Tagar Aksi, Twitter Tegaskan Tak Hapus Trending Topic

Tim, CNN Indonesia | Jumat, 27/09/2019 14:18 WIB
Bising Tagar Aksi, Twitter Tegaskan Tak Hapus Trending Topic Ilustrasi. (Foto: REUTERS/Regis Duvignau)
Jakarta, CNN Indonesia -- Twitter menegaskan tidak menurunkan topik yang menjadi tren (trending topic) tertentu apabila tidak melanggar ketentuan.  Twitter juga tidak menurunkan trending topic tertentu apabila tidak membahayakan percakapan publik.

Country Industry Head Twitter Indonesia dan Malaysia, Dwi Adriansah mengatakan trending topic tidak ditentukan oleh pihaknya, tapi oleh algoritme. Algoritme kecerdasan buatan ini akan menentukan tagar atau isu kekinian yang sedang menjadi tren.

"Pada dasarnya, Twitter punya aturannya. Trending topic itu dari algoritme. Kita tidak bisa menurunkan kalau memang tidak membahayakan percakapan publik," kata Dwi usai acara #LifeonTwitter, di Jakarta Pusat, Kamis (26/9).


"Itu [trending topik] berdasarkan algoritma jadi bukan buatan manusia Jadi dari kita itu tidak bisa tiba-tiba turun," tandasnya.

Dwi mengakui memang banyak persepsi ketika tiba-tiba tagar tertentu hilang dari daftar trending topic. Ia menjelaskan mungkin saja  saat itu sudah tidak banyak lagi orang yang mencuitkan hal tersebut.

"Jadi yang dilihat bukan jumlahnya tapi velocity-nya. Seberapa banyak  dalam satu waktu tertentu orang menggunakan tagar atau keyword tertentu," kata Dwi.

Kalau konteksnya cuitan tidak melanggar aturan, Twitter tidak akan membekukan akun. Hal ini juga berlaku apabila ada satu kata yang kurang pantas namun konteksnya tidak melanggar aturan Twitter. Twitter baru melakukan pembekuan akun atau penurunan tagar ketika kedua hal tersebut melanggar Peraturan Twitter.

"Kita melihat trending topic ini berdasarkan konteks. Kita tidak bisa semata-mata menurunkan karena satu kata yang tidak pantas. Jadi kami tidak menurunkan karena dari konteksnya, tidak melanggar peraturan Twitter. Semua harus berdasarkan konteks," katanya

Berdasarkan situs Twitter, trending tersebut harus menjadi sebuah diskusi yang sehat. Dalam hal ini Twitter dapat mencegah konten tersebut menjadi tren.

Dalam hal ini termasuk tren yang berisi referensi gambar dewasa atau cabul. Menyebarkan ujaran kebencian yang berdasarkan pada ras, suku bangsa, asal negara, orientasi seksual, jenis kelamin, identitas jenis kelamin, kelompok agama, usia, disabilitas, atau penyakit. Kemudian melanggar Peraturan Twitter.

Dalam beberapa kasus, Twitter juga dapat mempertimbangkan kelayakan suatu konten untuk diberitakan. Atau jika akun tersebut menyangkut kepentingan publik saat mengevaluasi kemungkinan pelanggaran. (jnp/evn)