Analisis

Buzzer Usai Kemenangan Jokowi: Jual Produk hingga Hoaks

Dini Nur Asih, CNN Indonesia | Jumat, 04/10/2019 16:27 WIB
Buzzer Usai Kemenangan Jokowi: Jual Produk hingga Hoaks Ilustrasi. (Istockphoto/filadendron)
Jakarta, CNN Indonesia -- Media sosial kini telah beralih fungsi menjadi wadah berkumpulnya para buzzer, khususnya saat Indonesia memasuki 'musim politik'. Buzzer dikerahkan baik dari sisi oposisi maupun pro pemerintah.

Selain tempat berkumpul buzzer, media sosial juga dimanfaatkan sebagai saluran perang informasi antar kubu. Salah satu tujuan utama adalah untuk menggaet simpati hingga menggiring opini masyarakat. Tak sedikit melakukan penyebaran hoaks.

Peranan buzzer dinilai kian melambung saat Pilpres 2019 yang diisi oleh para calon Joko Widodo dan Prabowo Subianto. Usai kemenangan Jokowi, buzzer kini pun masih menjadi perbincangan tersendiri.


Pengamat media sosial dari Suvarna.id, Enda Nasution mengungkap buzzer politik di media sosial Twitter biasanya membuat akun palsu untuk menyebarkan informasi. Namun, informasi itu 'dipoles' terlebih dahulu sebelum disebar ke publik.

"Buzzer sekarang identik dengan akun yang tidak jelas identitasnya. Sebab, tidak dapat dipungkiri bahwa sekarang banyak orang yang memiliki akun media sosial lebih dari satu akun," kata Enda saat dihubungi CNNIndonesia.com, Rabu (2/10).

"Sebelum menyebarkan, informasi itu harus 'difabrikasi' terlebih dahulu dan ada maksud jelek di belakangnya misal untuk menyerang orang lain. Dalam bahasa sehari-hari fitnah," lanjut dia.

Kendati demikian, sebagian buzzer politik kata Enda berasal dari tokoh yang dikenal masyarakat dan memiliki pengikut cukup banyak di media sosial mereka. Senada dengan Enda, Direktur Eksekutif Indonesia ICT Institute, Heru Sutadi mengatakan platform media sosial kini banyak digandrungi buzzer sebagai alat untuk 'marketing' politik.

Selain menyebarkan informasi, tugas lain buzzer adalah memperkenalkan tokoh tertentu yang sebelumnya tidak dikenal baik oleh masyarakat.

"Media sosial memberi peran signifikan untuk mengenalkan produk, tokoh, menaikkan isu termasuk marketing politik. Lewat media sosial, tokoh yang biasa saja bisa jadi mengkilap," tutur Heru.

Lebih lanjut Heru mengatakan ada pula buzzer yang diberi mandat untuk menjatuhkan lawan, apalagi saat masa kampanye politik.

"Di sisi berlawanan ada juga buzzer yang bergerak untuk menjatuhkan tokoh tertentu apalagi saat masa kampanye, buzzer kandidat selalu mengangkat tokoh yang diusung apapun kondisinya dan bagaimanapun caranya," terangnya.

Di sisi lain, 'kekuatan' buzzer tak hanya digunakan untuk kepentingan politik. Pengamat sosial media dari Bentang Informatika, Kun Arief Cahyantoro menyebut buzzer tidak selalu identik dengan kepentingan politik tetapi beberapa pelaku e-commerce pun memanfaatkan buzzer untuk mendulang penjualan produk mereka.

"Bukan hanya tokoh politik, bahkan sekarang pelaku e-commerce juga menggunakan buzzer untuk menaikkan rating dan penjualannya [endorse]," kata dia.

Arief menambahkan buzzer dibagi menjadi beberapa kelompok yakni putih, abu-abu, dan hitam. Selain itu, ada buzzer yang dibayar oleh pihak tertentu dan ada pula atas inisiatif sendiri.

"Buzzer juga terkelompokkan menjadi buzzer putih, abu-abu dan hitam. Ada yang atas inisiatif sendiri dan ada juga yang dibayar, tugas mereka tergantung di kelompok mana mereka berada," jelas Arief.

Migrasi Informasi dari Media Massa ke Online

Buzzer politik dinilai mulai memanfaatkan media sosial karena ada perubahan pola penyebaran informasi.

Arief mengatakan dahulu masyarakat mencari informasi melalui media massa seperti cetak dan elektronik. Namun seiring berkembangnya teknologi, media online menjadi sumber utama masyarakat dalam mencari informasi.

"Buzzer sangat berperan dan sangat efektif untuk mendukung dan mengkampanyekan seseorang. Hal ini dikarenakan perubahan pola transfer informasi yang dahulu menggunakan media massa baik cetak, elektronik, dan televisi berubah ke media sosial dan internet," terangnya.

Oleh sebab itu, Arief berharap saat menerima informasi dari sekelompok buzzer, warganet harus pandai mengulik siapa tokoh atau kelompok tertentu yang mereka dukung agar informasi itu tidak diterima secara utuh.

Sebab, tugas mereka adalah menyebarkan informasi yang belum tentu benar atau terindikasi hoaks.

Selain perubahan pola distribusi informasi, Enda menilai pengguna media sosial saat ini semakin banyak sehingga informasi yang dibagikan oleh buzzer bisa tersebar luas dan mudah untuk menggiring opini publik.

"Menurut saya audiensnya sudah banyak, artinya masyarakat sudah banyak menggunakan media sosial jadi ada peluang di situ dan penyebaran informasi bakal makin meluas," tutur Enda. (age)