Menilik Keuntungan Proyek 'Tol Langit' Palapa Ring

CNN Indonesia | Senin, 14/10/2019 16:56 WIB
Menilik Keuntungan Proyek 'Tol Langit' Palapa Ring Uji coba jaringan optik bawah laut Palapa Ring Paket Tengah. (Foto: dok. Puspen TNI)
Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden Joko Widodo pada Senin (14/10) meresmikan proyek Palapa Ring di Istana Negara. Peresmian ini menandai terhubungnya seluruh ibu kota di 514 kota dan kabupaten di seluruh Indonesia.

Proyek yang sempat mangkrak selama 20 tahun ini merupakan pembangunan strategis jaringan tulang punggung (backbone) optik nasional. Dihimpun dari berbagai sumber, berikut keuntungan adanya proyek Palapa Ring.

Menyatukan jaringan se-Indonesia


Palapa Ring diambil dari nama sumpah Mahapatih Gajah Mada dan semangatnya untuk menyatukan Nusantara. Sesuai dengan namanya, proyek pembangunan jaringan serat optik ini bertujuan menyatukan Indonesia dari Sabang hingga Merauke.

Dalam proses pembangunannya, proyek ini terbagi menjadi tiga tahap yakni barat, tengah, dan timur. Pembangunan Palapa Ring Barat dan Tengah yang telah rampung tahun lalu, terakhir paket Timur yang rampung pada Agustus silam.

Dengan adanya tulang punggung akses jaringan, maka masyarakat bisa memanfaatkan untuk komunikasi berbasis data.

Internet lebih cepat dan murah

Palapa Ring menjanjikan akses internet lebih cepat dan murah untuk masyarakat yang berada di kawasan Indonesia Timur dan Tengah. Bukan rahasia jika akses internet di daerah timur seperti Maluku hanya mencapai kecepatan 300 Kbps, jauh tertinggal dibandingkan di Jakarta dengan 7 Mbps.

Tak hanya itu, Palapa Ring diharapkan bisa merangsang penyedia layanan telekomunikasi untuk masuk ke wilayah-wilayah yang sebelumnya sulit dijangkau. Mengingat penyedia layanan ini tak perlu lagi membangun jaringan sendiri karena sudah ada jaringan tulang punggung. Dengan begitu, tarif yang dibebankan kepada pengguna akan lebih murah.

Pembangunan sensor tsunami di jaringan serat optik

Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara pada 2018 menyampaikan mendukung konsep dasar yang diusung Badan Penerapan dan Pengkajian Teknologi (BPPT) terkait Cabel based Tsunameter (CBT) atau alat pendeteksi awal tsunami.

Adanya sensor pendeteksi pada jariingan serat optik di dasar laut ini bisa mengurangi biaya operasional yang saat ini sangat mahal. Integrasi yang memanfaatkan kabel optik bawah lau sebagai pendeteksi tsunami sebelumnya telah diterapkan di AS dan dirasa cocok untuk diimplementasikan di Indonesia.

Memungkinkan pilihan layanan operator

Adanya Palapa Ring Timur memungkinkan penyedia layanan telekomunikasi untuk masuk ke area Indonesia Timur. Sejauh ini, Telkomsel telah lama mendominasi layanan di area tersebut.

Proyek yang digarap pemerintah ini bisa mengurangi beban investasi operator yang besar bila semata-mata mengandalkan kemampuan perusahaan.

Palapa Ring Timur diharapkan bisa membuka akses bagi perusahaan swasta untuk membangun jaringan di wilayah tak padat penduduk seperti Nusa Tenggara Timur, Maluku, dan Papua.

[Gambas:Video CNN] (ndn/evn)