Garuda Sugardo
Penulis merupakan anggota pelaksana teknis Dewan TIK Nasional (Wantiknas) yang pernah menjabat sebagai direksi Telkomsel, Indosat, dan Telkom.

KOLOM

Jejak Sejarah Soeharto dan Jokowi di Palapa Ring

Garuda Sugardo, CNN Indonesia | Selasa, 22/10/2019 08:06 WIB
Jejak Sejarah Soeharto dan Jokowi di Palapa Ring Ilustrasi. (Foto: ANTARA FOTO/Zabur Karuru)
Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden Joko Widodo meresmikan pengoperasian proyek Palapa Ring pada 14 Oktober lalu. Seperti halnya infrastruktur yang lain, sarana dan fasilitas telekomunikasi ini dinilai akan berpengaruh positif terhadap pembangunan perekonomian, sekaligus memajukan sektor sosial, politik, pendidikan dan budaya bangsa.

Kehadiran infrastruktur Palapa Ring serta merta telah menjawab sebuah tuntutan nasional akan penyediaan akses tulang punggung telekomunikasi. Hal ini telah lama dinanti industri dan komunitas teknologi informasi dan komunikasi.

Walaupun ada 'tunggakan' mendasar dalam 5 tahun terakhir di sektor ini, namun tetap ada salut kepada Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara atas keberhasilan Palapa Ring.


Sejak Indonesia merdeka 74 tahun lalu, sedikitnya ada dua Presiden Indonesia yang melakukan aktivitas bersejarah di bidang telekomunikasi. Pertama, Presiden Soeharto yang hadir di Stasiun Pengendali Satelit di Cibinong Bogor pada 12 Juli 1976, dan menyaksikan peluncuran SKSD yang ditembakkan dari Cape Canaveral, Florida, AS.

Setelah satelit stabil mengitari orbit, Pak Harto dengan duplikat keris Amukti Palapa di tangannya, meresmikan pengoperasian Sistem Komunikasi Satelit Domestik pada 16 Agustus 1976 di Istana Negara. Sistem itu dikenal dengan sebutan SKSD Palapa Indonesia.

Peluncuran SKSD dan yang kemudian dinamakan Satelit Palapa ini, saat itu mencengangkan dunia, karena Indonesia adalah negara ketiga yang memiliki dan mengoperasikan satelit domestik setelah Kanada dan AS.


Dengan pengoperasian SKSD Palapa tersebut, sejatinya sejak 43 tahun yang lalu seluruh jengkal tanah air kita telah terjangkau oleh fasilitas dan jasa telekomunikasi (dan juga siaran radio dan televisi).

Hebatnya lagi, para insinyur belia Perumtel (sekarang Telkom) saat itu berkolaborasi dengan para ahli Hughes Aircraft Company, Amerika, ternyata mampu merancang bangun sebuah sistem satelit yang 'fit and proper' untuk negara kepulauan.

Nama Palapa ini pula yang diharapkan akan menjaga kesatuan dan persatuan NKRI. Proyek Palapa Ring yang tertunda sejak dimulai 2007 yang lalu pun menggunakan nama yang sama. Dulu SKSD Palapa 1976 dan sekarang Palapa Ring 2019.

Tidak satu peperangan pun dapat dimenangkan tanpa dukungan telekomunikasi. Sebagai tentara dan kepala Negara, Soeharto menerjemahkannya bahwa pembangunan pun akan dimenangkan dengan dukungan sarana, fasilitas dan jasa telekomunikasi.

Monumen kedua bidang pertelekomunikasian berskala nasional, kemudian ditorehkan Presiden Soeharto pada saat peresmian Sentral Telepon Digital Indonesia (STDI) untuk seluruh kabupaten kota pada 23 Desember 1991 di Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Sejak itu Indonesia bebas dari telepon manual dan engkol.

Pak Harto dan Pak Jokowi memimpin Indonesia dalam kurun waktu dan suasana yang amat berbeda satu dengan yang lain. 

Jejak Sejarah Soeharto dan Jokowi di Dunia TelekomunikasiJokowi saat meresmikan operasi Palapa Ring. (Foto: ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari)

Internet dan Kegagapan


Palapa Ring diresmikan dalam nuansa global Industri 4.0, saat penggunaan internet of things (IoT) memungkinkan masyarakat beraktivitas dengan sepenuhnya memanfaatkan kemampuan online and real time, industri robotik dan intelijensi artifisial.

Palapa Ring adalah infrastruktur pita lebar untuk akses internet berkecepatan tinggi. Fasilitas selular 4G apalagi 5G terutama di Indonesia Bagian Timur, kelak memerlukan akses broadband dari Palapa Ring.

Pak Harto, 30 tahun yang lalu membangun fasilitas telekomunikasi Indonesia dalam suasana 'global third wave' yang dikenalkan oleh futurolog Alvin Toffler.


Saat itu dunia tengah beranjak dari masyarakat industri menuju masyarakat informasi. Kedua presiden tersebut seakan menjawab tantangan dunia sesuai dengan kebutuhan zaman.

Dulu masyarakat mendamba tersedianya fasilitas telepon, telepon umum dan wartel; saat ini masyarakat adalah insan berbudaya dalam kehidupan Smart City. Oleh karena itu, rakyat enggak boleh gaptek alias gagap teknologi.

Fasilitas Palapa Ring harus bermanfaat, terjangkau dan memberdayakan penggunanya. Pesan itu yang perlu disampaikan Menkominfo di era Jokowi jilid dua.

Palapa Ring adalah wahana untuk membangun kultur digital menuju peradaban bangsa yang maju. Dan perlu diingat, antisipasi yang harus dilakukan dalam akses berlimpah ini adalah soal penyebaran hoaks, kebencian dan berita fitnah.

[Gambas:Video CNN] (asa)
LEBIH BANYAK DARI KOLUMNIS