Huawei Mate 30 Pro Terancam Tak Didukung Google Play Store

CNN Indonesia | Kamis, 07/11/2019 10:41 WIB
Huawei Mate 30 Pro Terancam Tak Didukung Google Play Store Ilustrasi (CNN Indonesia/Hani Nur Fajrina)
Jakarta, CNN Indonesia -- Huawei Mate 30 Pro disebut bakal meluncur tanpa dukungan aplikasi Google Mobile Services dan Play Store. Hal ini sudah sempat diumumkan September lalu dan dikonfirmasi oleh perilisan ponsel tersebut di Australia pada 21 November mendatang.

Dilansir dari TechCrunch, Huawei P30 Pro di Australia tak akan memiliki Google Play Store. Sehingga pengguna hanya bisa mengunduh aplikasi seperti Gmail, Google Maps, dan Google Chrome, dari toko aplikasi milik Huawei, Huawei AppGallery. Tentu pilihan aplikasi di toko ini juga tidak sebanyak di Google Apps. Huawei Mate 30 Pro akan dijual seharga 1,599 dolar Australia (sekitar Rp15,4 juta). 

HUawei Mate 30 Pro yang tak dilengkapi Play Store ini ikut menggelitik pengamat gadget dari Ponselmu.com, Herry SW. Ia membuat polling di akun Twitter untuk melihat minat konsumen di Indonesia, apakah masih mau membeli Huawei Mate 30 Pro tanpa dukungan Google atau tidak.





"Umpama Huawei Mate 30 Pro diluncurkan ke Indonesia dengan harga Rp10,9 juta, apakah Anda akan membeli ponsel itu? Tentu tanpa Google Mobile Services dan Play Store. Silakan mencari cara sendiri untuk mengakalinya, dengan segala risiko keamanan yang mungkin timbul," cuit @herrysw yang sudah dikonfirmasi CNNIndonesia.com, Minggu (3/11).

Dari hasil jajak pendapat tersebut, 85 persen pengikut Herry SW menjawab tidak mau membeli. Sementara 15 persen lainnya berniat membeli. 

Menanggapi hal ini, Public Relations Manager Huawei Indonesia Mohamad Ilham Pratama menyebut pihaknya tetap menyediakan dukungan aplikasi Google seperti Gmail dan Google Maps lewat Huawei Mobile Service mirip Google Play Store..

"Informasi yang bisa saya bagikan, Huawei Mate 30 Pro akan hadir dengan Huawei Mobile Service dan tidak terinstal aplikasi Google. Jadi, konsumen bisa mengunduh aplikasi-aplikasi seperti yang didukung Google," kata Ilham saat dihubungi CNNIndonesia.com, Rabu (6/11).

[Gambas:Video CNN]

Juni lalu, AS menaruh nama Huawei dalam daftar hitam. Sehingga perusahaan teknologi asal AS dilarang menjual teknologi dan software mereka pada perusahaan China itu. Akibatnya, Huawei tak bisa membeli perangkat keras dari pemasok seperti Intel, Micron, atau Qualcomm.

Perusahaan ini juga tak bisa membeli lisensi software dari Google dan Microsoft. Huawei pun tak bisa mengakses berbagai layanan Google yang merupakan perusahaan AS. Terutama untuk produk-produk yang baru meluncur.

Meski sudah menyiapkan sistem operasi tandingan, HarmonyOS atau HongMeng. Namun, Huawei tetap menjadikan Android tetap menjadi pilihan utama perusahaan itu. 

(din/DAL)