ITB: Tak Perlu Larang Plastik, Fokus Daur Ulang

CNN Indonesia | Kamis, 21/11/2019 15:22 WIB
ITB: Tak Perlu Larang Plastik, Fokus Daur Ulang Ilustrasi sampah plastik. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sebanyak 100 persen limbah atau sampah plastik bisa didaur ulang yang menjadi barang yang memiliki nilai tambah melalui pengelolaan ekonomi sirkular. Sampah plastik akan berbahaya bagi lingkungan dan mata rantai sampah apabila tidak dikelola dengan baik.

Kepala Laboratorium Teknologi Polimer dan Membran Institut Teknologi Bandung (ITB) Akhmad Zainal mengatakan penggunaan jenis plastik botol atau PET (Polietilena Tereftalat) di Indonesia sebanyak 350 ribu ton pada tahun 2018. Sedangkan yang bisa didaur ulang hanya 216,047 ton.

Atas fakta itu, Akhmad mengatakan pemerintah tidak perlu gembar-gembor menerapkan aturan melarang penggunaan plastik, namun melakukan tata kelola sampah plastik secara sirkular ekonomi.


"Jadi bukan dengan melarang plastik dan tidak sekadar kumpulkan sampah di TPS lalu buang ke TPA. Tapi pemerintah bisa mengolah," kata Akhmad dalam diskusi di bilangan Kuningan, Jakarta, Selasa (19/11).


Lebih lanjut, Akhmad mengatakan botol plastik berbahan PET bisa didaur ulang hingga 50 kali sehingga bisa menghemat bahan baku produksi.

Akhmad mengatakan proses kumpul-angkut-buang sampah adalah cara kuno yang justru menghabiskan biaya (cost center). Oleh karena itu, ia berharap masyarakat Indonesia bisa merubah paradigma untuk memilah sampah agar bisa menjadi aset.

"Itu cara kuno. Paradigma baru adalah pilah, kumpulkan, proses jadi barang bernilai tambah, lalu jual. Ini namanya profit center," kata dia.

[Gambas:Video CNN]

Perubahan paradigma ini diharapkan bisa membuat sampah memiliki nilai tambah dan membantu industri daur ulang untuk mendapatkan bahan daur ulang dari dalam negeri.

"Sampah dapat dimanfaatkan dan bernilai ekonomi tinggi. Sampah yang tercampur aduk itu beban, sampah yang terpilah adalah aset," katanya.

(jnp/DAL)