Penjualan Xiaomi di Eropa Melesat 73 Persen Kuartal III 2019

CNN Indonesia | Senin, 25/11/2019 22:02 WIB
Penjualan ponsel Xiaomi di Eropa naik 73 persen pada kuartal ketiga 2019 dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Ilustrasi Xiaomi. (Screenshot via web Xiaomi).
Jakarta, CNN Indonesia -- Ponsel merek Xiaomi kini semakin berjaya di pasar Eropa. Laporan terbaru menunjukkan penjualan perusahaan asal China ini naik 73 persen di Benua Biru pada kuartal ketiga 2019 dibanding periode yang sama tahun lalu.

Xiaomi bahkan masuk dalam peringkat keempat di pangsa pasar seluruh Eropa. Hal ini merupakan kabar baik bagi Xiaomi di tengah kondisi penjualan ponsel yang justru menyusut di negerinya sendiri.

Calanyst mencatat, pertumbuhan Xiaomi melampaui kenaikan penjualan produk lain, seperti Samsung yang hanya 23 persen dalam setahun belakangan.


Pada kuartal III 2019, Xiaomi 'merebut' 10,5 persen pasar Eropa, mewakili pertumbuhan 73 persen dengan pengiriman 5,5 juta unit ponsel pintar.


Dilansir dari Gizmochina, General Manager Lu Weibing mengatakan saat ini Xiaomi hendak mengikuti langkah Samsung dan Apple untuk memperoleh pangsa pasar yang lebih besar di Eropa.

Berbeda dengan rivalnya, Huawei yang merupakan ponsel nomor satu di China justru mengalami kesulitan dalam bersaing di Eropa. Dengan pangsa pasar kuartal III 2019 hanya 22,2 persen dan mengirimkan 11,6 juta ponsel, pertumbuhan Huawei tercatat stagnan.

Hal tersebut diperparah oleh Amerika Serikat yang melarang peredaran Huawei, sehingga Google mencabut seluruh layanannya pada ponsel tersebut. Walau masih berada di posisi kedua, Huawei tak mengalami pertumbuhan signifikan.

[Gambas:Video CNN]

Analisis senior Canalyst Ben Stanton mengatakan pasar Eropa merupakan pasar yang tak hanya memiliki banyak peluang, tetapi juga ancaman. Brexit memiliki dampak negatif bagi penjualan ponsel dari luar Eropa.

"Di Inggris, pengiriman perangkat premium dari Samsung dan Apple dipercepat sebelum tenggat waktu Brexit tahun ini. Terjadi penurunan penjualan besar, karena distributor dipaksa untuk menimbun produk dan melakukan lindung nilai terhadap risiko tarif yang akan datang," jelasnya dalam laporan Canalyst.

(ndn/lav)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK