Curhat Huawei Soal Perang Dagang AS-China

eks, CNN Indonesia | Jumat, 13/12/2019 06:19 WIB
Curhat Huawei Soal Perang Dagang AS-China Ilustrasi. Perang dagang memaksa Huawei terus menggenjot inovasi mereka. (Aditya Panji)
Labuan Bajo, CNN Indonesia -- Huawei menyebut perang dagang China-Amerika Serikat membuat situasi perusahaan jadi sangat sulit. Kondisi ini memaksa mereka untuk terus menambah tenaga pada divisi penelitian dan pengembangan (litbang).

Penguatan bagian ini diperlukan agar perusahaan mereka tak lagi bergantung pada AS terkait teknologi cip dan hardware. Pasalnya, AS telah menutup akses Huawei pada jual beli perangkat hardware dari negeri itu.

"Ini adalah masa-masa yang berat buat perusahaan kami," jelas Ken Qijian, VP Public Affairs & Communications Huawei Indonesia saat berbincang dengan CNNIndonesia.com, Rabu malam (11/12).

Ketika ditanya terkait perpanjangan izin yang diberikan pemerintah AS kepada Huawei, Ken menjelaskan perpanjangan itu tak lantas membuat perusahaan mereka bisa kembali membeli perangkat keras dari AS.


Saat ini, Huawei memang masih bisa mendapat lisensi perangkat lunak seperti Microsoft Windows dan Android. Kedua software ini digunakan pada perangkat laptop dan smartphone perusahaan China itu. Tapi untuk membuat komputer, Huawei masih harus membeli cip dan penyimpanan dari perusahaan AS.

"Kami sudah tidak bisa membeli stok perangkat keras dari AS [...] Selain itu kami juga tak bisa terus bergantung dengan teknologi AS, karena sewaktu-waktu pasokan bisa diputus pemerintah AS," lanjutnya.

Ken menuturkan saat ini hampir setengah dari total pegawai Huawei merupakan pekerja litbang.

Tahun ini saja perusahaannya baru menambah 10 ribu tenaga riset dan pengembangan pada kuartal satu (Januari-Maret) 2019. Sehingga total terdapat 90 ribu pekerja di divisi ini. Dengan demikian, sebanyak 45 persen dari pekerja Huawei hanya bertugas melakukan pengembangan inovasi perusahaan.

"Hampir setengah dari pekerja perusahaan adalah orang yang kerjanya hanya melakukan R&D."

Selain punya tenaga riset yang besar, Huawei pun menggelontorkan dana litbang dengan angka fantastis. Sekitar 14,1 persen dari total pendapatan mereka tahun lalu disuntik ke divisi ini.

Tahun lalu, Rp203,5triliun (101,5 miliar yuan) diberikan untuk keperluan divisi litbang tersebut. Total dalam 10 tahun terakhir, Huawei telah menggelontorkan 962,6 triliun untuk pengembangan inovasi perusahaan, seperti dikutip dari Asian Nikkei Review.

[Gambas:Video CNN]

Berdasarkan data dana riset yang akan digelontorkan perusahaan pada 2019, Huawei memang unggul dari lawan-lawannya. Dana riset perusahaan itu jauh lebih besar dari ZTE, Ericsson, dan Nokia.

Huawei: US$8,38 miliar (15 persen)
ZTE: US$900 juta (14,9 persen)
Ericsson: US$1,93 miliar (21,2 persen)
Nokia: US$2,53 miliar (18 persen)

Saat ini terdapat empat perusahaan dunia yang menyediakan teknologi jaringan yang kerap digunakan perusahaan telekomunikasi. Perangkat telekomunikasi yang disediakan empat perusahaan ini dipakai untuk menggelar teknologi 4G, 5G, perangkat yang dipasang di BTS, dan teknologi komunikasi lain.

Meski persentase Huawei hanya 15 persen dari total pendapatan mereka, namun nominal yang didedikasikan untuk riset dan pengembangan jauh lebih besar dari para pesaingnya.

Pesatnya perkembangan teknologi jaringan Huawei, memaksa Ericsson meningkatkan angka rasio yang diinvestasikan untuk riset dan pengembangan. Pada 2015 dan 2016, perusahaan itu hanya menganggarkan 14 dan 15 persen untuk riset dan pengembangan. Namun, angka ini naik jadi 21,2 persen pada 2019.

Hal yang sama terjadi pada Nokia, angka tersebut naik dari periode yang sama. Namun, sedikit turun dari 2018 (20,5 persen) dan 2017 (21,2 persen), mengutip data Telecoms.

Tapi besarnya angka litbang ini juga karena Huawei perlu inovasi di berbagai bidang. Selain pengembangan teknologi jaringan telekomunikasi, Huawei juga perlu mengembangan teknologi smartphone, laptop, perangkat wearable, dan sistem operasi baru untuk menggantikan Android.

Sementara Ericsson dan Nokia hanya fokus pada pengembangan teknologi komunikasi mobile dan fix. Selain itu, Nokia juga punya bisnis biaya lisensi dari era kejayaan perusahaan itu sebagai pemanufaktur perangkat ponsel. Sebab, saat ini Nokia tak lagi memegang sendiri merek ponsel Nokia. Melainkan HMD global telah melisensi merek Nokia untuk produksi perangkat ponsel mereka.

Komitmen terhadap inovasi juga tampak dari aktifnya Huawei membangun kantor penelitian di China dan luar China. Saat ini grup perusahaan tersebut telah memiliki 16 pusat penelitian dan 28 kantor ahli di seluruh dunia. Sebanyak 8 tempat penelitian ditempatkan di China dan 8 lain ada di luar China.

Huawei sengaja menempatkan kantor-kantor penelitian di luar China, demi mendapat sumber daya ahli yang tak semua ingin bekerja di China. Sehingga, mereka sengaja membuat tempat-tempat penelitian dimana para ahli berkumpul. 



Sebagai contoh, Huawei membuat pusat penelitian microwave di Milan, Italia, dimana banyak ahli teknologi ini di kota itu. Selain itu, Huawei juga memiliki kantor pengembangan software di India sejak 20 tahun lalu, karena menurut mereka pengembangan software di India sudah lebih maju. 
(eks/eks)