Peneliti Asing Beberkan Solusi Lawan Karhutla

CNN Indonesia | Sabtu, 11/01/2020 06:04 WIB
Peneliti Asing Beberkan Solusi Lawan Karhutla Ilustrasi Karhutla. (CNN Indonesia/Hafidz).
Jakarta, CNN Indonesia -- Peneliti mengimbau sektor swasta berinvestasi di komunitas lokal dan memulai program insentif demi mencegah pembakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Indonesia.

Karhutla yang terjadi di Indonesia bisa dihentikan dengan melakukan sosialisasi dan memberikan program insentif untuk mencegah pembakaran lahan untuk membuka lahan di hutan.

Pasalnya pembakaran hutan tersebut mayoritas disebabkan oleh ulah manusia, baik itu masyarakat adat maupun korporasi. Program insentif ini akan diberikan kepada komunitas lokal bukan perorangan.


"Saya ingin mengatakan bahwa harus ada peran dari sektor swasta untuk berinvestasi di komunitas lokal untuk berikan insentif agar tidak membakar," kata Peneliti dari Departement of Anthropolgy dari Universitas Rutgers Amerika Serikat, Erin Vogel di Kantor LIPI, Jakarta, Kamis (8/1).


Erin mengatakan insentif tersebut bisa diberikan kepada komunitas lokal atau masyarakat adat yang akrab dan hidup bersama dengan api di hutan.

Insentif tersebut bisa berupa membangun sekolah atau infrastruktur untuk mendorong masyarakat adat untuk tidak membakar hutan untuk membuka lahan.

"Ini opini saya dan model ini sesungguhnya telah berhasil di beberapa tempat. Jadi secara umum, berikan program insentif kepada komunitas agar tidak membakar," ujar Erin.

Di sisi lain, Peneliti Biological Anthropology dari Universitas Oxford Brookes Inggris, Susan Cheyne menjelaskan apabila pembakaran liar tidak dihentikan, maka kebakaran akan terus berlanjut dan akan diperparah dengan fenomena alam.

[Gambas:Video CNN]
"Banyak yang bilang perusahaan besar membakar. Tapi juga orang lokal melakukannya dengan skala kecil. Semua orang harusnya tidak melakukan pembakaran apa pun alasannya," ujar Susan.

Fenomena alam seperti El Nino dan musim kemarau, dipercayai Susan akan memperparah karhutla di Indonesia. El Nino menyebabkan kekeringan di wilayah sehingga akan menjadi sangat mudah terbakar.

Fenomena El Nino sendiri adalah memanasnya suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah hingga timur.

"Kita tahu bagaimana El Nino dan musim kemarau akan terus datang kembali. Sehingga jadi pertanyaan bagaimana kita mengatasi musim kering," ujar Susan.


Erin di sisi lain mengatakan sulit untuk memadamkan Karhutla dalam skala besar, khususnya di daerah lahan gambut, berapa pun orang yang dikirim, bom air yang dijatuhkan.

Erin mengatakan seluruh pemangku kebijakan termasuk masyarakat harus mengembalikan habitat seperti sedia kala. Habitat sedia kala akan mengembalikan aspek hidrologi untuk menjaga hutan dari kebakaran yang parah.

"Begitu kebakaran terjadi, tak banyak yang terjadi kecuali kita melakukan tarian hujan," candanya. (jnp/lav)