Kota metropolitan kedua terbesar setelah ibu kota ini menghadirkan seribu nuansa dalam waktu bersamaan. Termasuk menelusuri kisah panjang budayanya, mulai dari Jawa, China, Arab, sampai Belanda.
Pantas jika kota ini juga dijuluki 'kota segala rasa'. Karena kekayaan rasanya juga tertuang dalam keberagaman kuliner yang kebanyakan menu-menu perintis, seperti Soto Ambengan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pak Hasni Sadi merantau dari Lamongan ke Surabaya, memikul sotonya dan berjualan dari kampung ke kampung sampai di akhir tahun 1971, sebelum menetap jualan soto di pojokan Jalan Ambengan, Surabaya. Di sana, cerita suksesnya dimulai. Soto Ayam Ambengan Pak Sadi (Asli) namanya bergema hingga ke penjuru kota.
Racikan Sendiri
Konon sampai sekarang Pak Sadi sendiri yang mengawasi setiap cabang miliknya untuk menjaga kualitas bahan dasar dan rasa soto sama seperti racikan sendiri. Sepertinya itu kunci usaha Pak Sadi bisa bertahan, pada konsistensi rasanya.
Menu andalannya adalah soto ayam biasa. Soto ayam biasa merupakan menu original Pak Sadi. Satu porsi berisi daging ayam kampung, telur rebus, seledri, dan taburan koya.
Tak cuma soto, warung Pak Sadi juga menyediakan tahu campur, rujak cingur, dan soto madura. Semuanya merupakan makanan khas Jawa Timur yang rasanya susah untuk dilupakan.
Dari yang tadinya cuma soto pikulan, Soto Ambengan Pak Sadi telah memenangkan penghargaan tertinggi sebagai Masters of the Year dari World Street Food Congress Food pada 2013 di Singapura. Mengalahkan nominasi pedagang jajanan kaki lima dari berbagai negara.
Sebagai pemegang rekor street food terbaik dunia, Soto Ayam Ambengan Pak Sadi (Asli) tidak menjadi tempat makan yang susah dicari. Justru sangat gampang, bahkan tersedia di GrabFood. Jika Anda tak sempat mampir warungnya, tinggal buka aplikasi GrabFood, pesan sebentar, dan sampai dalam sekejap. (fef)