BMKG Curhat Sulitnya Prediksi Cuaca di Indonesia

CNN Indonesia | Rabu, 22/01/2020 16:30 WIB
BMKG menilai Indonesia sebagai negara ekuator memiliki kerumitan dibandingkan negara-negara yang jauh dari ekuator soal prediksi cuaca. Ilustrasi cuaca di Indoneia. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) membeberkan faktor-faktor penyebab sulitnya memperkirakan cuaca di Indonesia. Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menjelaskan kesulitan ini muncul karena Indonesia merupakan negara kepulauan yang terletak di ekuator.

Dwikorita mengatakan Indonesia sebagai negara ekuator memiliki kerumitan dan ketidakpastian lebih dibandingkan negara-negara yang jauh dari ekuator. Fenomena atmosfer dan cuaca di Indonesia, disebut Dwikorita sangat kompleks

"Kompleksitas ini makin meningkat dan tidak pasti karena Indonesia adalah negara kepulauan lautan lebih luas dari daratannya dan diapit oleh dua samudera terbesar di dunia yaitu Samudera Pasifik dan Samudera Hindia," ujar Dwikorita saat dihubungi CNNIndonesia.com, Selasa (21/1).


Dwikorita menjelaskan kesulitan lainnya muncul karena adanya fenomena interaksi antara laut dan atmosfer di Samudra Pasifik dan Samudra Hindia yang mengapit Indonesia. Fenomena ini bisa mengakibatkan MJO (aliran udara basah) yang berdampak pada peningkatan curah hujan disertai angin kencang dan petir.


"Kesulitan tersebut ditambah lagi de fenomena interaksi antara laut dan atmosfer di Samudra Pasifik dan Samudra Hindia. [Ini] makin meningkatkan kerumitan dan kesulitan dalam prediksi cuaca di Indonesia," ujar Dwikorita.

Terpisah, Kepala Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (TMC BPPT), Tri Handoko Seto mengatakan memprediksi hujan di Indonesia bukanlah urusan mudah.

"Lembaga dunia yang kredibel memprediksi hujan di negaranya di lintang tengah pun kewalahan memprediksi hujan di Indonesia di ekuator. Sinyal perubahan cuaca di ekuator tidak cukup jelas karena gaya coriolis di ekuator yang sangat kecil bahkan nol untuk lintang nol," kata Tri.

Dwikorita mengatakan dalam melakukan prakiraan cuaca tak hanya menggunakan permodelan prediksi hujan Global Forecast System (GFS) yang diproduksi Pusat Nasional untuk Prediksi Lingkungan (NCEP) Amerika Serikat.

[Gambas:Video CNN]

"Hasil pemodelan dari GFC  dianalisis atau dimodelkan lanjut dengan menggunakan data-data observasi oleh BMKG dari Satelit Himawari dan Radar Cuaca [40 Radar Cuaca]," kata Dwikorita.

Dwikorita menjelaskan kesulitan prediksi cuaca di wilayah kepulauan Indonesia ini bisa disiasati dengan integrasi antara prediksi cuaca dan prediksi iklim. Integrasi lanjutan juga dilakukan dengan hasil observasi data satelit setiap 10 menit dan data radar secara real time. 

"Seluruh langkah tersebut harus selalu diperbarui setiap hari tiap tiga jam. Apabila terdeteksi gejala ekstrem maka proses pemutakhiran prediksi harus tiap jam hingga tiap 10 menit. Menyesuaikan perkembangan potensi kondisi ekstrem," ujar Dwikorita.


Dwikorita mengatakan prakiraan hujan ekstrem yang tepat bisa membantu operasi TMC untuk mencegah curah hujan tinggi di wilayah potensi banjir. Prediksi BMKG bisa membantu TMC untuk mencegat awan dan memaksanya untuk hujan sebelum tiba di wilayah potensi banjir.

"Prediksi BMKG sangat membantu kapan dan di mana TMC harus dilakukan sehingga berhasil mengurangi intensitas hujan. Kalau BMKG salah prediksi, maka TMC pun akan gagal," tutur Dwikorita. (jnp/DAL)