Kemajuan Teknologi Buat Warga di Daerah dan Kota Jadi Sejajar

CNN Indonesia | Sabtu, 25/01/2020 05:48 WIB
Kemajuan Teknologi Buat Warga di Daerah dan Kota Jadi Sejajar Ilustrasi kemajuan teknologi. (Istockphoto/ismagilov)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kemajuan digital di Indonesia yang terjadi selama satu dekade terakhir telah memunculkan sejumlah sosok talenta daerah yang sukses di bidang teknologi atas kerja keras mereka sendiri.

Misalnya saja, William Tanuwijaya, pria asal Medan yang pernah bekerja paruh-waktu menjadi penjaga warung internet, kini sukses membangun Tokopedia, perusahaan teknologi unicorn pertama Indonesia.

Ada pula kisah Iman Usman, founder platform pendidikan Ruangguru yang berasal dari keluarga sederhana di Padang. Mereka berhasil menunjukkan bahwa talenta daerah bisa mencatatkan prestasi hingga ke tingkat internasional.


CEO dan founder dari Sagara Technology, Adi Arriansyah mengatakan bahwa fakta tersebut menunjukkan bahwa kemajuan teknologi mendorong peningkatan pemerataan peluang dan kemampuan di semua kelas masyarakat, baik kaum urban atau perkotaan maupun rural atau di desa.

"Teknologi membuka pintu peluang bagi siapa saja. Apalagi, talenta-talenta yang berasal dari daerah biasanya memiliki tingkat adaptabilitas dan daya juang yang tinggi. Kedua hal inilah yang ikut menjadi kunci menentukan kesuksesan usaha mereka," ungkap Adi lewat keterangan tertulis kepada redaksi, Jumat (24/1).


Sagara sendiri, kata Adi, diperkuat oleh banyak talenta daerah yang telah mencatatkan segudang prestasi hingga di kancah internasional. Misalnya, Adi yang berasal dari Ungaran, kabupaten Semarang, merupakan jebolan dari Founder Institute, sebuah program pelatihan entrepreneur asal Silicon Valley.

Baru-baru ini, ia berhasil menembus program prestisius Executive Education di Harvard Business School. Ada pula Angga Fauzan, pria asal Boyolali yang sempat viral berkat prestasinya yang mendunia. Pria lulusan S2 dari Edinburgh University ini memegang posisi sebagai Chief Marketing Officer di Sagara.

Walau begitu, Adi mengingatkan bahwa walau teknologi telah bantu membuka pintu, talenta manapun masih harus berjuang keras untuk bisa mencapai pintu itu.

"Sebenarnya, saya sendiri sempat gagal beberapa kali masuk ke Harvard. Di jaman sekarang, siapapun bisa mendaftar ke Harvard, tapi tidak semua orang akan pantang menyerah hingga rela mendaftar berkali-kali," jelas Adi.

[Gambas:Video CNN]

Didirikan pada tahun 2014, saat ini menurut Adi, sekitar 80 persen tenaga kerja Sagara berasal dari daerah. 

"Kultur dan latar belakang talenta daerah jadi memiliki perspektif dan ide-ide fresh, unik, dan out of the box. Hal ini mungkin terjadi karena mereka memang punya kesamaan latar belakang, yaitu telah memilih untuk berjuang bareng di kota," tambah Adi.

Kini tim Sagara telah menangani berbagai klien besar, mulai dari Kementerian RI hingga Startup. Beberapa diantaranya adalah Ruangguru, Blue Bird, Qlue, Kementerian Pendidikan, Cartenz Group, dan Telkomsel.

Secara total, Sagara telah mengembangkan dan meluncurkan lebih dari 100 aplikasi website dan lebih dari 50 aplikasi mobile.

"Kami yakin bahwa talenta-talenta lokal Indonesia, bila memiliki pondasi yang cukup, bisa mengukir prestasi hingga tingkat internasional. Untuk itu, kami berencana untuk melatih talenta-talenta daerah dengan membangun sekolah khusus yang mengajarkan keterampilan coding," ungkap Adi.

Sekolah ini rencananya akan diluncurkan pada tahun 2020, dengan menggandeng dukungan dari pemerintah daerah. Lulusan terbaik akan diberikan investasi untuk membangun usaha di bidang teknologi di daerah asalnya masing-masing.

(dal/DAL)