Menebak 'Ujung' Wabah Corona Berkaca dari Ebola hingga SARS

CNN Indonesia | Jumat, 06/03/2020 15:19 WIB
Menebak 'Ujung' Wabah Corona Berkaca dari Ebola hingga SARS Ilustrasi. (Chinatopix via AP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Wabah virus corona novel (nCoV-19) penyebab penyakit Covid-19 sampai hari ini semakin meluas. Menurut data dari Badan Kesehatan Dunia (WHO), lebih dari 93.164 orang terinfeksi corona di 77 negara di dunia. Sementara 3.119 orang dari 77 negara itu juga meninggal akibat virus serupa SARS tersebut.

Dari angka ini, sebanyak 3 persen manusia yang terinfeksi virus corona akhirnya tewas. Sementara 97 persen lainnya berhasil kembali sehat.

Indonesia termasuk dari 77 negara yang terjangkit virus corona. Beberapa waktu lalu Presiden Joko Widodo mengumumkan bahwa ada dua WNI dinyatakan positif corona, usai berkontak langsung dengan warga negara Jepang yang juga terinfeksi corona.


Sampai saat ini kajian lebih lanjut terkait COVID-19 masih terus dilakukan. Seorang profesor dari The National School of Tropical Medicine, Baylor College of Medicince, Peter Hotez mengatakan untuk tahu kapan wabah virus akan berakhir, perlu berkaca dari kasus sebelumnya yaitu Ebola, SARS, dan H1N1 (flu babi).

Ebola

Menyoal Ebola, virus ini menghantui masyarakat yang tinggal di Afrika Barat. Ebola pertama kali menyebar tahun 2014 dan berakhir tahun 2016. Tak hanya menyerang manusia, virus Ebola juga menyerang hewan seperti monyet dan simpanse.

Gejala yang ditimbulkan virus Ebola antara lain demam, nyeri di kepala dan dada, menggigil, mual, diare yang disertai darah, mata merah, dan batuk.

Menurut Hotez, wabah ini bisa diredakan setelah gabungan peneliti dari berbagai negara menyiapkan vaksin dan obat antivirus selama dua tahun dan terkoordinasi dengan baik.

Vaksin Ebola pertama kali didistribusikan di salah satu rumah sakit di Republik Demokratik Kongo, Afrika Tengah.

SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome)

SARS pertama kali muncul di bagian selatan China tahun 2002 dan berakhir pada akhir Juli 2003. Virus yang menginfeksi lebih dari 8.000 orang ini hanya bertahan selama setahun.

Penyebab wabah virus ini bisa tak meluas karena warga menjalankan instruksi untuk menjaga kebersihan seperti rutin mencuci tangan.

Selain itu, berhentinya wabah itu juga didukung akibat faktor perubahan cuaca dan kelembaban karena musim panas tiba, jelas John Nicholls, profesor klinis dan patologi dari Universitas Hong Kong, seperti dilansir CNN

Hal senada diungkap Dr. Howard Markel, Direktur Pusat Sejarah dan Obat dari Universitas Michigan. Menurutnya, sebuah wabah bisa berhenti akibat perubahan cuaca. Hal lain akibat peningkatan imunitas tubuh, setelah cukup banyak orang terinfeksi wabah itu.

Sehingga ia memprediksi wabah virus corona ini akan berakhir pada Juni atau Juli, ketika musim panas menghampiri belahan Bumi utara. Meski hal ini tak berarti virus itu benar-benar akan menghilang.

[Gambas:Video CNN]

H1N1 (Flu babi)

Wabah flu babi (H1N1) pertama kali muncul tahun 2009 dan saat ini telah menjadi virus musiman. Pasalnya virus ini muncul sepanjang tahun.

Di belahan Bumi utara, kasus virus H1N1 kerap mencuat ketika musim gugur dan dingin datang. Namun, angka penyakit ini kerap turun saat musim yang lebih hangat datang, seperti pada musim semi dan panas.

Sehingga ia memperkirakan tingkat kelembaban dan bareapa banyak seseorang ada di dalam ruangan menjadi alasan kenapa virus itu kerap merebak saat musim dingin. Meski hal ini masih belum dapat dipastikan dengan pembuktian ilmiah.

Vaksin Virus Corona

Ketika ditanya apakah virus corona akan kembali mewabah, Hotez tidak berani memberikan prediksi. Karena menurutnya saat ini tak cukup bukti ilmiah dan cukup waktu untuk membuat prediksi yang akurat.

Hotez menyebut para peneliti masih harus menghadapi banyak tantangan untuk mempelajari perilaku patogen ini bisa menular ke orang yang rentan.

Bercermin dari kasus virus Ebola, Hotez optimis gabungan peneliti internasional yang tengah menyiapkan vaksin dan obat antivirus corona dapat bekerja dengan baik.

"Saya cukup optimis bahwa kita akan memiliki obat antivirus dengan protokol yang baik dalam beberapa minggu mendatang," kata Hotez.

Saat ini ada lebih dari 20 vaksin virus corona hang tengah dikembangkan. Menurut Tedros Adhanom Ghebrevesus, Direktur Jenderal Badan Kesehatan Dunia (World Health Organization/ WHO) saat ini uji klinis pertama obat antivirus ini tengah dilakukan.

Namun, Hotez pesimis obat itu bisa didistribusikan ke publik tepat waktu ketika wabah tengah memburuk. Sebab obat-obatan ini mesti melalui uji klinis dan harus mendapat persetujuan terlebih dulu. (din/eks)