Jika mampir ke daerah asalnya, Surabaya, akan sangat mudah menemukan orang yang menjual rujak cingur. Salah satunya Marmila. Pemilik usaha kuliner Rujak Cingur Bu Mella ini sempat viral di kalangan para pencinta kuliner karena keunikan sajiannya.
Satu porsi rujak cingur Bu Mella cukup untuk dimakan sampai 3 orang. Selain itu, racikan rujak cingur miliknya berbeda dengan rujak-rujak lainnya. Ia mengaku menggunakan dua jenis petis yang berbeda, yakni petis udang dan petis hitam Madura.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun meski warung rujak cingurnya telah terkenal di dalam maupun luar Surabaya seperti saat ini, Bu Marmila sesekali masih merasakan jatuh bangun dalam menjalani usahanya. Rujak Cingur Bu Mella sempat viral di media sosial karena harga yang dipatok dinilai mahal. Seporsinya dipatok Rp60 ribu. Padahal menurutnya harganya sudah sebanding dengan porsi untuk 3 orang.
Saking banyaknya yang memperbincangkan kejadian itu di media sosial, warung Rujak Cingur Bu Mella sempat didatangi Satpol PP Pemkot Surabaya untuk mengecek langsung kelayakan makanan yang dijual. Bahkan juga menyuruh Bu Marmila untuk menutup sementara usahanya demi menghindari teror yang datang bertubi-tubi.
"Pas ramai-ramainya pemberitaan itu, saya tetap ingin buka. Ternyata gerobak jualan, meja, pisang kelutuk, gelas-gelas sudah dibuang di kali. Akhirnya, Bu Lurah menyarankan pindah tempat jualan," kenangnya.
Akhirnya, Rujak Cingur Bu Mella diarahkan ke sentra wisata kuliner. Setelah resmi menghuni Sentra Wisata Kuliner Raya Gunung Anyar Sawah, Bu Marmila bergabung dengan GrabFood dengan harapan usahanya bisa kembali pulih seperti sedia kala.
"Semenjak bergabung dengan GrabFood, saya mendapatkan banyak keuntungan. Rujak cingur saya semakin dikenal banyak orang dan pelanggannya bertambah."
Tidak banyak yang mengetahui, di balik kisah viral Rujak Cingur Bu Mella, ibu satu anak ini juga dianggap sebagai seorang superwoman oleh keluarganya. Bu Marmila gigih berjualan demi menutup biaya pengobatan suaminya yang sejak 6 tahun lalu mengidap gagal ginjal.
"Namanya usaha, dijalani aja lika-likunya. Yang penting sehat, karena harus menanggung biaya pengobatan suami. Kerja itu sedikit banyak [disyukuri] yang penting dapat uang," ujarnya. (fef)