Opsel Dinilai Berdosa Jika Anggap Banjir Kuota Sebagai Rezeki

CNN Indonesia | Rabu, 25/03/2020 02:25 WIB
Opsel Dinilai Berdosa Jika Anggap Banjir Kuota Sebagai Rezeki Ilustrasi kuota internet meningkat imbas kerja dari rumah usai corona. (CNN Indonesia/Bisma Septalisma)
Jakarta, CNN Indonesia -- Anggota Dewan Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional, Garuda Sugardo menyatakan operator seluler atau telekomunikasi 'berdosa' jika peningkatan trafik di tangan pandemi virus corona Covid-19 sebagai keuntungan. Menurutnya, kenaikan trafik saat ini terjadi akibat sebuah bencana.
 
"Operator telekomunikasi berdosa besar bila beranggapan bahwa peningkatan trafik connectivity di tengah coronavirus ini adalah sebagai 'rezeki' atau menghitungnya sebagai prestasi kenaikan revenue," ujar Garuda dalam keterangan tertulis, Selasa (24/3).


Garuda menuturkan latar belakang kenaikan trafik saat ini berbeda dengan suasana ketika mudik lebaran. Dia berkata kenaikan saat ini adalah masa-masa yang penuh keprihatinan nasional. Sebab, sudah 579 orang terindikasi positif corona dan 49 orang meninggal dunia pada Senin (23/4).
 
Lebih lanjut, Garuda meminta operator harus berbisnis mulia di tengah situasi saat ini laksana para dokter dan perawat yang bertaruh nyawa dalam menyelamatkan penderita Covid-19. Salah satu kemuliaan operator, misalnya mematikan billing system-nya terkait BTS di RS yang terdapat para penderita diobservasi dan dirawat.
 
"Begitulah seharusnya aksi tanggap darurat telekomunikasi," ujarnya.


Di sisi lain, Garuda mengatakan fungsi telekomunikasi, khususnya seluler amat penting dan semakin nyata seiring diberlakukannya social distancing, belajar jarak jauh, dan work from home (WFH). Sementara kegiatan #dirumahaja, dia berkata menjadikan penggunaan kuota lebih boros.
 
Dia tidak mengelak ada paket khusus untuk profesional, kuliah, dan sekolah. Tapi, dia mengingatkan sebagian besar pelanggan normal quota based.
 
"Inilah momen di mana operator harus menunjukkan kepedulian dan perhatian spesialnya (diskon) kepada pelanggan dan masyarakat luas (program CSR)," ujar Garuda.
 
"Ini pula waktu yang pas bagi Kominfo memberikan insentif kepada operator yang penuh perhatian terhadap bencana corona ini. Adil kan?," ujarnya.


[Gambas:Video CNN]

Garuda juga mengatakan sudah waktunya operator menggunakan dana CSR yang kerap dibanggakan, misalnya dengan membagikan masker dengan logo operator. Jika tak tersedia masker, operator bisa membagikan antiseptic kepada masyarakat.
 
"Wah, sayang sekali (antiseptic) jumlahnya terbatas. Lha, ganti aja dengan permen jahe. Apa kek, yang penting ada rasa kepedulian. Dana CSR yang kerap dibanggakan itu, kini saatnya digelontorkan untuk masyarakat, jangan cuma disimpan di bank," ujar Garuda.
 
Jangan Iklan di Tengah Bencana

Garuda meminta operator memikirkan nasib masyarakat yang tetap tinggal di rumah karena penyebaran Covid-19. Dia meminta operator tidak terus-terusan memutar tayangan promosi di televisi.
 
"Kan lebih manfaat sebarkan iklan layanan masyarakat dan bakti sosial terukur yang bermanfaat terkait coronavirus," ujar Garuda.
 
Garuda menuturkan seharusnya Kominfo dan operator telekomunikasi tidak lagi menghitung untung rugi di 'masa perang' ini. Sebab, dia berkata telekomunikasi secara nyata telah berperan besar dalam memerangi Covid-19.
 
"Tinggal bagaimana semua operator di Indonesia turut berpartisipasi aktif mengedukasi 340 juta pelanggannya untuk berdisiplin tinggal #dirumahaja," ujarnya.

(jps/DAL)