LIPI Minta Warga Waspada Rapid Test Corona di Toko Online

CNN Indonesia | Kamis, 02/04/2020 06:50 WIB
LIPI Minta Warga Waspada Rapid Test Corona di Toko Online Ilustrasi alat rapid test corona. (ANTARA FOTO/AJI STYAWAN)
Jakarta, CNN Indonesia -- Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengingatkan masyarakat untuk hati-hati jika hendak melakukan uji virus corona Covid-19 secara mandiri dengan alat rapid test yang dibeli di situs belanja online. 

Peneliti LIPI Wien Kusharyoto mengatakan masyarakat harus memastikan apakah alat tersebut memiliki akurasi dalam mendeteksi Covid-19.
 
"Publik harus hati-hati memilih tes-nya. Mungkin ada baiknya mencari sumber bahwa alat rapid test-nya tersebut memiliki sensitivitas dan berfungsi dengan baik," ujar Wien kepada CNNIndonesia.com, Rabu (1/4).
 
Wien menuturkan sejumlah negara memiliki masalah terkait dengan alat rapid test yang dimilikinya. Misalnya Spanyol, dia berkata alat rapid test yang dibeli dari sebuah perusahaan di China tingkat akurasinya hanya 30-35 persen.

Sehingga, dia berkata ada sejumlah warga Spanyol yang positif dinyatakan negatif dalam alat rapid test tersebut.  Tak hanya Spanyol, dia mendapat informasi bahwa negara seperti Turki, Ceko, hingga Belanda juga memiliki masalah yang sama seperti China.
 
"Jadi semuanya tergantung dari produsennya. Karena banyak juga yang memproduksi alat rapid test," ujarnya.
 
Lebih lanjut, Wien menjelaskan rapid test merupakan cara untuk mengetahui sejarah seseorang apakah pernah terinfeksi Covid-19 atau sebaliknya. Dia berkata patogen yang masuk ke dalam tubuh biasanya membentuk antibodi IgM.
 
Untuk antibodi IgM, dia berkata umumnya terbentuk selama 5-10 hari setelah terinfeksi. Puncaknya, dia berkata dua minggu setelah terinfeksi. Sedangkan antibodi IgD, dia menyebut sekitar 11 hari dan mencapai puncak pada 4 minggu setelah terinfeksi.

[Gambas:Video CNN]
 
"Oleh karena itu, tujuan rapid test sebenarnya adalah mendetekasi apakah seseorang pernah terinfeksi oleh Covid-19 atau belum. Kalau sudah lama, misalnya sudah dua minggu, ada kemungkinan hasil testnya itu positif," ujarnya.
 
Selain riwayat infeksi, Wien menyampaikan rapid test juga digunakan untuk mengetahui orang terinfeksi Covid-19 tanp gejala. Sebab, orang tanpa gejala ketika terinfeksi Covid-19 bisa menularkan virus tersebut kepada orang lain tanpa diketahui.
 
"Sedangkan yang negatif maka saya cenderung untuk 10 hari kemudian dites kembali karena antibodinya sudah terbentuk," ujar Wien.
 
Di sisi lain, Wien mengaku rapid test tidak berbahaya. Dia menyebut rapid test Covid-19 seperti mengets kehamilan pada perempuan. Perbedaan, kata dia terletap pada pengambilan darah untuk rapid test Covid-19.
 
"Jadi kalau seorang berani menusuk ujung jarinya sendiri kemudian meneteskan itu ke alkitnya tu sebenarnya itu tidak masalah," ujarnya.


Meski tak berbahaya, Wien mengimbau masyarakat yang memilih uji mandiri, khususnya yang dinyatakan positif untuk membuat alat rapid test Covid-19 dengan benar agar tidak menyebabkan orang lain terinfeksi. Misalnya, dia berkata alat rapid test Covid-19 yang telah digunakan dimasukkan ke dalam plastik atau dibakar.
 
"Paling tidak harus dipanaskan karena dengan demikian virusnya sudah mati atau dijemur di matahari yang lama. Dan untuk yang positif untuk segera melapor," ujar Wien.
 
Lebih dari itu, Wien menyampaikan ada metode lain untuk mendeteksi Covid-19, yakni lewat metode PCR. Dia berkata metode PCR dapat mengetahui status seseorang meski jumlah virus dalam darah masih sedikit dan antibodi belum mencapai puncaknya.
 
"Jadi terus terang lebih tepat yang real time PCR yang saat ini digunakan," ujarnya.

(jps/DAL)