Peneliti Temukan Jejak Hutan Hujan Kuno di Antartika

CNN Indonesia | Jumat, 03/04/2020 08:06 WIB
Peneliti Temukan Jejak Hutan Hujan Kuno di Antartika Ilustrasi. (AP Photo/Leo Correa)
Jakarta, CNN Indonesia -- Gabungan peneliti dari beberapa universitas di Benua Eropa mengungkapkan temuan mereka terkait hutan hujan kuno yang ada di Antartika.

Hutan hujan ini ada sebelum daerah itu di kelilingi gunung es seperti saat ini. Temuan ini dimulai dari ekspedisi yang merela lakukan pada 2017 di lautan Amundsen. Ini adalah lokasi yang ada di bagian barat Antartika menggunakan kapal RV Polarstern.

Lalu mereka melakukan pengeboran sampai ke dasar laut Amundsen yang juga dekat dengan lokasi gletser Pulau Pinus dan Thwaites dan berjarak sekitar 900 kilometer dari Kutub Selatan.

Saat menyentuh kedalaman 30 meter, mereka menemukan komposisi sedimen yang lebih dekat ke permukaan.


"Pewarnaan yang tidak biasa pada lapisan sedimen dengan cepat menarik perhatian kami," kata Ahli Geologi Institut Alfred Wegener, Johann Klages dikutip dari laman resmi AWI

"Analisis pertama menunjukkan bahwa pada kedalaman 27-30 meter di bawah dasar laut, kami telah menemukan lapisan yang awalnya terbentuk di darat," tambahnya.

Setelah data itu dihimpun, mereka kembali ke darat dan melakukan pemindaian data yang cukup rumit. Sebab, gambar-gambar yang mereka dokumentasikan berupa akar-akar tanaman yang telah menjadi fosil.

Lalu mereka melakukan analisis dengan metode mikroskopis. Studi menunjukkan bahwa ada bukti serbuk sari dan spora, keduanya mengarah kepada sisa-sisa hutan hujan purba yang ada di Antartika 90 juta tahun yang lalu.

"Banyaknya sisa-sisa tanaman mengindikasikan bahwa pantai di Antartika bagian barat pada waktu itu, berupa hutan rawa yang beriklim sedang," jelas Palaeoekolog dari Universitas Northumbria Inggris, Ulrich Slazmann.

Setelah tim peneliti menggunakan pemodelan untuk merekonstruksi seperti apa iklim dari kawasan hutan hujan yang telah lama hilang itu, berdasarkan data biologis dan geokimia yang terkandung dalam sampel tanah.

Studi menunjukkan bahwa level CO2 (karbondioksida) atmosfer selama masa Mid-Cretaceous jauh lebih tinggi.

Di lingkungan yang anas itu (dengan suhu rata-rata tahunan 12 derajat celsius), proses vegetasi yang lebat akan menutupi seluruh Benua Antartika dan lapisan es yang ada saat ini.

[Gambas:Video CNN]

"Asumsi umum adalah bahwa konsentrasi karbondioksida global di Creaceous kira-kira 1.000 bagian per juta (ppm)," jelas Ahli Geografi Universitas Bremen Jerman, Torsten Bickert, seperti ditulis Science Alert

"Tetapi dalam percobaan berbasis model ini, kami butuh tingkat konsentrasi 1.120 hingga 1.680 ppm untuk mencapai suhu rata-rata saat itu di Antartika," sambungnya.

Oleh karena itu, para peneliti pun berkesimpulan bahwa hutan hujan kuno Antartika memberikan mereka pemahaman tentang hubungan antara konsentrasi CO2 dan iklim kutub saat masa prasejarah. (din/eks)