Eks Karyawan Facebook Protes Mark Zuckerberg Atas Kasus Trump

CNN Indonesia | Jumat, 05/06/2020 12:25 WIB
Pendiri Facebook Mark Zuckerberg saat bertemu dan memberikan keterangan pers usai melakukan pertemuan di Balaikota, Jakarta, Senin, 13 Oktober 2014. Pertemuan dengan Joko Widodo ini merupakan bagian dari agenda Mark Zuckerberg sebelum menghadiri acara Internet.org Developer Workshop dan akan bertemu dengan operator dan pengembang aplikasi lokal di Indonesia. CNN Indonesia/Safir Makki Ilustrasi bos Facebook Mark Zuckerberg. (SAFIR MAKKI)
Jakarta, CNN Indonesia -- CEO Facebook Mark Zuckerberg terus mendapat tekanan dari sejumlah pihak atas penolakannya untuk mengambil tindakan terhadap posting dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump. 

Terbaru, 33 mantan karyawan yang bekerja di perusahaan selama tahap awal, termasuk beberapa yang membantu membuat pedoman komunitas asli Facebook mengirim surat terbuka untuk Zuckerberg.

Surat yang telah beredar itu menyajikan pokok persoalan dengan sangat jelas dan sangat menentang posisi Zuckerberg. Intinya, mereka berpendapat bahwa posisi Facebook pada moderasi Trump tidak konsisten.


Melansir The Verge, para mantan karyawan Facebook menilai Zuckerberg telah menciptakan standar ganda tautologis, yakni membuat pernyataan Trump seolah tidak dapat diganggu gugat.

Dalam surat terbuka itu, mereka meminta Zuckerberg harus mempertimbangkan kembali kebijakan perusahaan mengenai pidato politik, dimulai dengan politisi yang memeriksa fakta dan secara eksplisit melabeli pos-pos berbahaya.


Sebagai karyawan awal perusahaan, mengaku telah menulis Standar Komunitas yang asli, menyumbangkan kode untuk produk yang memberi suara kepada orang-orang dan tokoh masyarakat, dan membantu menciptakan budaya perusahaan seputar koneksi dan kebebasan berekspresi.

Para mantan karyawan menyampaikan Facebook dirancang untuk memberdayakan orang dan memiliki kebijakan untuk melindungi penggunanya. Facebook sejatinya memiliki tujuan untuk memungkinkan ekspresi tercipta sebanyak mungkin, kecuali itu akan secara eksplisit membahayakan.

"Kami sering tidak setuju, tetapi kami semua mengerti bahwa menjaga orang tetap aman adalah hal yang benar untuk dilakukan. Sekarang, tampaknya, komitmen itu telah berubah," ujar para mantan karyawan dalam surat terbuka.

Mereka menyadari sudah tidak bekerja di Facebook. Namun, mereka bangga atas apa yang telah mereka bangun. Sehingga, mereka tidak bisa tinggal diam dan bertanggungjawab atas hal yang terjadi di Facebook.

"Hari ini, kepemimpinan Facebook menafsirkan kebebasan berekspresi yang berarti bahwa mereka tidak boleh melakukan apa pun atau hampir tidak ada apa-apa untuk berinteraksi dalam wacana politik," kutip surat terbuka.

Terkait dengan hal itu, mereka menilai perilaku Facebook tidak sesuai dengan tujuan yang dinyatakan untuk menghindari sensor politik. Facebook dianggap sudah berakting, seperti yang dikatakan Mark Zuckerberg soal 'wasit kebenaran'.


Tindakan itu, lanjut mereka telah mempertaruhkan cita-cita Facebook melindungi orang yang tidak berdaya dari penguasa.

Mereka menyindir pernyataan Zuckerberg bahwa memberikan peringatan tentang pidato seorang politisi tidak tepat. pada sisi lain, menghapus konten dari warga negara dapat diterima, bahkan jika keduanya mengatakan hal yang sama.

"Itu bukan sikap mulia untuk kebebasan. Itu tidak koheren, dan lebih buruk lagi, pengecut," kata para mantan karyawan.

Melansir Great News, para mantan karyawan menyatakan peneliti Facebook telah belajar lebih banyak tentang psikologi kelompok dan dinamika persuasi massa. Hal itu yang kemudian membuat Facebook menetapkan norma-norma, menciptakan struktur izin, dan secara implisit mengotorisasi kekerasan.

Namun, semua itu tidak berjalan meski pimpinan Facebook telah berbicara dengan para ahli, advokat, dan organisator.

Para mantan karyawan berpendapat Facebook harus menindak pernyataan politisi yang tidak sesuai. Misalnya, pernyataan Trump yang memerintahkan penembakan merupakan bentuk ancaman negara terhadap warganya.

"Facebook harus tahu bahaya ini," kata mereka.


Para mantan karyawan mengaku sangat sedih melihat sesuatu yang mereka bangun dan sesuatu yang diyakini akan membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik telah kehilangan arahnya dengan begitu dalam. Mereka juga mendukung karyawan untuk terus bersuara.

Khusus untuk Zuckerbeg, mereka mengaku menyadari bahwa mantan atasannya itu memikirkan secara mendalam tentang masalah tersebut. Namun, mereka tahu bahwa Facebook harus bekerja untuk mendapatkan kembali kepercayaan publik yang saat ini menilai Facebook tidak netral.

"Pengecekan fakta bukanlah penyensoran. Memberi label panggilan untuk kekerasan bukanlah otoriterisme. Harap pertimbangkan kembali posisi Anda," tutup surat terbuka tersebut. (jps/DAL)

[Gambas:Video CNN]