Aplikasi GPS Korea Selatan dan Selandia Baru Saran Jokowi

CNN Indonesia | Kamis, 04/06/2020 18:45 WIB
Ilustrasi podcast aplikasi spotify. CNN Indonesia/Bisma Septalisma Ilustrasi. (CNN Indonesia/Bisma Septalisma)
Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden Joko Widodo mengatakan ingin meniru Selandia Baru dan Korea Selatan yang memanfaatkan teknologi telekomunikasi dalam pelacakan warga yang terpapar Covid-19.

Daily Diary milik Selandia Baru dan Corona 100m (Co100) milik Korea Selatan adalah aplikasi yang dimaksud oleh Jokowi. Saat ini Indonesia telah memiliki aplikasi pengawasan orang dalam pengawasan (ODP), seperti PeduliLindungi hingga 10 Rumah Aman, ke depannya aplikasi Covid Track juga akan diluncurkan.

Berikut apa aplikasi yang hendak ditiru oleh Joko Widodo untuk melakukan pengawasan dan pelacakan terhadap pasien Covid-19.


Aplikasi Selandia Baru

Pada pertengahan Mei, pemerintah Selandia Baru meluncurkan aplikasi bernama 'Digital Diary' yang bisa digunakan warga untuk mencatat pergerakan mereka menggunakan GPS.

Digital Diary membuat pengguna bisa mencatat pergerakan mereka sendiri di aplikasi Digital Diary. Sehingga, ketika suatu saat mereka terinfeksi Covid-19, mereka memiliki catatan sudah bepergian kemana saja selama ini.

Sehingga bisa menjadi referensi untuk membantu pengguna mengetahui kemungkinan di mana pengguna terpapar virus.

Dari data lokasi itu, pengguna bisa memperkirakan atau memberitahu orang-orang yang sempat kontak fisik apabila orang tersebut dinyatakan positif Covid-19, seperti dilansir dari 9to5Mac.

Data pergerakan dari GPS ini tidak dibagikan kepada siapapun. Semua tersimpan pada aplikasi di ponsel pengguna.

Setiap informasi yang diputuskan untuk direkam oleh aplikasi akan disimpan dengan aman di ponsel dan dihapus secara otomatis setelah 31 hari, seperti dikutip News Hub

Aplikasi Korea Selatan

Pada Maret, pemerintah Korea Selatan membuat aplikasi "perlindungan keamanan karantina mandiri" untuk mengawasi warga yang sedang dalam masa lockdown.

Aplikasi buatan Kementerian Dalam Negeri dan Keamanan ditujukan bagi warga yang diperintahkan agar tetap dirumah. Aplikasi ini menggunakan GPS untuk melacak lokasi para warga untuk memastikan mereka tak melanggar aturan lockdown.

Aplikasi ini juga digunakan agar mereka tetap terhubung dengan pekerja medis. Warga yang terkena lockdown pun wajib melaporkan perkembangan mereka lewat aplikasi ini.

Aplikasi ini digunakan untuk membantu menekan ledakan kasus dan mencegah para 'orang tanpa gejala' (OTG) berkeliaran. Sebab, mereka disalahkan menjadi penyebab peningkatan infeksi yang signifikan, seperti dilansir Technology Review.

Selain itu, sebelumnya Korsel juga punya aplikasi Corona 100m (Co100). Aplikasi ini dibuat oleh seorang pengembang Korsel yang akan memperingatkan apabila pengguna berada di jarak 100 meter dari lokasi yang pernah dikunjungi oleh orang yang terinfeksi Covid-19.

Aplikasi ini memanfaatkan data pemerintah. Sebab, data lokasi yang pernah dikunjungi pasien Covid-19 dari pemerintah sulit dipahami.

Dilansir dari CNN, aplikasi menyediakan tanggal pasien corona terkena Covid-19, termasuk negara asli, jenis kelamin, umur, dan lokasi yang pernah dikunjungi pasien. Pada akhir Februari,  aplikasi telah diunduh sebanyak 1 juta kali.  (jnp/eks)

[Gambas:Video CNN]