Penjualan Ponsel Global Anjlok 20 Persen Imbas Corona

CNN Indonesia | Rabu, 03/06/2020 02:25 WIB
Sejumlah konter handphone di ITC Roxy, Jakarta, 4 Juli 2019. Pemerintah berencana untuk memberlakukan regulasi IMEI pada 17 Agustus mendatang. Dengan adanya aturan ini, operator bisa melakukan pemblokiran layanan telekomunikasi (telepon, SMS, internet) jika IMEI ponsel ternyata tidak terdaftar di Kemenperin. (CNN Indonesia/ Hesti Rika) Ilustrasi penjualan ponsel. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Perusahaan riset teknologi informasi Amerika Serikat, Gartner Inc mengeluarkan data terkait penjualan smartphone secara global pada kuartal pertama 2020. Data menunjukkan bahwa penjualan turun sekitar 20,5 persen selama pandemi virus corona SARS-Cov-2 (Covid-19).

Menurut Gartner, penurunan terjadi akibat meningkatnya ketidakpastian ekonomi dan kebijakan lockdown yang dikeluarkan sejumlah negara pada bulan Maret.

Faktor lainnya seperti penutupan pabrik smartphone yang banyak ditempatkan di China, seperti dikutip AFP.


"Pandemi virus corona menyebabkan pasar ponsel pintar global mengalami penurunan terburuk pada kuartal pertama 2020. Sebab, sebagian produsen China terkemuka dan Apple sangat dipengaruhi oleh penutupan sementara pabrik-pabrik mereka di China," kata Analis Riset Senior Gartner, Anshul Gupta.

Jika ditilik lebih rinci, data penjualan smartphone global versi Gartner menunjukkan bahwa vendor ponsel asal Korea Selatan yakni Samsung masih berada di posisi puncak dengan pangsa pasar sampai 18,5 persen meskipun penjualannya turun lebih dari 22 persen.


Di posisi kedua ditempati oleh produsen ponsel asal China yaitu Huawei dengan pangsa pasar 14,2 persen dan penurunan penjualan perangkat sebesar 27 persen. Salah satu faktornya ialah karena Huawei masuk ke dalam daftar hitam ekonomi AS.

"Huawei akan mengalami tahun yang penuh tantangan. Dengan kurangnya Google Play Store, Huawei tidak mungkin bisa menarik pembeli baru di pasar internasional meskipun mereka telah mengembangkan ekosistem Huawei Mobile Service (HMS)," tutur Gupta dikutip dari laman resmi Gartner.

Di posisi ketiga ada Apple yang mengalami penurunan sekitar 13,7 persen dan hanya meraih pangsa pasar 8,2 persen.

"Apple memiliki awal yang kuat di tahun ini berkat jajaran produk barunya. Jika Covid-19 tidak terjadi, vendor kemungkinan akan melihat penjualan iPhone mencapai rekor tertinggi di kuartal pertama," kata Wakil Presiden Gartner, Annette Zimmermann.

"Selain itu, gangguan rantai pasokan dan menurunnya belanja konsumen menghentikan tren positif Apple di bulan Februari. Namun kemampuan Apple untuk melayani pelanggan mereka melalui toko daring dan produksi yang kembali mendekati level normal pada akhir Maret, membantu memulihkan beberapa momentum," lanjut dia.

Di posisi keempat dan kelima, ditempati Xiaomi dan Oppo. Pada penjualan ponsel global kuartal pertama 2020, Xiaomi mengalami penurunan sebesar 9,3 persen namun berhasil menggaet pangsa pasar 1,4 persen.


Sementara Oppo mengalami penurunan penjualan sebesar 19,1 persen dan hanya meraup pangsa pasar delapan persen.

"Distribusi offline Oppo yang merupakan salah satu kekuatannya mesti menderita karena kebijakan bekerja dari rumah sehingga memaksa konsumen untuk berbelanja secara online. Untuk meningkatkan penjualan dan pangsa pasarnya, penting bagi Oppo untuk memperkuat penjualan online mereka," pungkas Gupta.

Di Indonesia sendiri, berdasarkan pengiriman kuartal pertama 2020, data IDC Indonesia menunjukkan bahwa ada penurunan hingga 7,3 persen secara year on year (dari tahun ke tahun/YoY) dan 24,1 persen secara quarter over quarter (dari kuartal ke kuartal/QoQ).

Sementara sampai dengan kuartal pertama ini, ada 7,5 juta unit smartphone yang dikirim ke Indonesia.

Selain data pengapalan smartphone di Indonesia, IDC juga merilis daftar puncak vendor ponsel. Untuk pertama kalinya, Vivo bertengger di urutan puncak pada kuartal ini.

Menurut IDC, keberhasilan Vivo disebabkan oleh perusahaan cenderung fokus pada kegiatan pemasaran dan berbagai kegiatan promosi untuk smartphone kelas low-end dan midrange, yang dinilai sesuai untuk pasar Tanah Air yang 'sadar harga'.

Beralih ke Oppo, tahun ini perusahaan gencar meluncurkan perangkat seri A mereka yang dianggap IDC sebagai penggerak volume.

Selanjutnya ada Samsung, vendor ponsel asal Korea Selatan ini tetap menjadi merek ternama di Indonesia tetapi IDC mencatat ada pengiriman produk yang berkurang karena ada gangguan pada pasokan.

Sementara Xiaomi menurut IDC terus mengembangkan fanbase yang kuat dan memiliki beragam model ponsel yang terjangkau. Selain Samsung, Realme juga mengalami penurunan pengapalan pada kuartal ini.

(din/DAL)

[Gambas:Video CNN]