Smartfren Respons 5G Dituding Biang Penyebaran Virus Corona

Jonathan Patrick, CNN Indonesia | Rabu, 17/06/2020 23:22 WIB
Korea Selatan merupakan salah satu negara yang telah melakukan komersialisasi jaringan 5G. Negara asal Samsung Electronic ini menjadi salah satu pionir bersama Jepang dan China di Asia. Ilustrasi jaringan 5G. (Foto: CNN Indonesia/Jonathan Patrick)
Jakarta, CNN Indonesia --

Smartfren merespons teori konspirasi terkait jaringan 5G sebagai penyebab Covid-19. Hal ini sekaligus untuk meluruskan berita miring soal 5G.

VP Technology Relations & Special Project Smartfren, Munir Syahda Prabowo mengatakan jauh sebelum pandemi Covid-19, keberadaan jaringan 5G diterpa kabar tak sedap, salah satunya adalah sebagai penyebab burung jatuh dari udara.

Seakan belum selesai, muncul rumors jaringan 5G biang penyebaran Covid-19.


"Sebelum Covid pun sudah banyak rumor, saya kira pasti tahu saat itu dirumorkan kalau burung serombongan lewat di depan tempat 5G jatuh semua," kata Munir dalam konferensi virtual, Rabu (17/6).

Terkait isu 5G yang menyebabkan burung berjatuhan dari udara, Munir menjelaskan dari sisi teknis teknologi 5G menggunakan frekuensi tinggi seperti 3,5 Ghz, 26 GHz, dan 28 GHz.

Munir menjelaskan tinggi frekuensi akan memberikan pengaruh pada lingkungan hidup. Kendati demikian, ia mengatakan hal tersebut bisa dihindari dengan implementasi yang terukur.

"Tapi kalau terkendali, terukur, juga tidak ada masalah. Karena sudah menggunakan juga untuk kepentingan radio microwave untuk jaringan microwave untuk jarak jauh menggunakan frekuensi tinggi. Tidak ada problem karena terukur dan bisa dikendalikan," ujar Munir.

Smartfren siap sambut era digital new normal

Di sisi menyambut new normal Covid-19, Munir mengatakan jaringan Smartfren telah siap untuk menampung beban lalu-lintas (traffic) data. New normal memang membawa perubahan pola perilaku lalu-lintas data.

Salah satunya adalah pergeseran beban traffic di area perkantoran pada jam kerja, ke area pemukiman. Jam puncak traffic juga semakin merata, tak khusus melonjak tajam saat jam makan siang atau jam pulang kantor.

"Smartfren secara umum karena jaringan sudah dikerahkan sempurna hanya masalahnya pengaturan mana beban berat, ringan. Itu yang dipantau Smartfren, kata Munir.

Sebelumnya, melansir CNN, teori yang mencoba menghubungkan pandemi Covid-19 dengan 5G dinilai tidak masuk akal. Sebab, Covid-19 disebabkan oleh virus menular dan menyebar di wilayah dunia yang belum memiliki teknologi 5G.

Profesor bioteknologi di Universitas Pennsylvania, Kenneth Foster menuturkan banyak teori konspirasi tentang bahaya 5G fokus pada frekuensi radio yang dilalui sinyal. Namun, dia mengatakan jaringan 5G pita-rendah dan menengah-pita beroperasi pada frekuensi yang hampir sama dengan jaringan yang ada.

Smartfren tunda uji coba 5G

Smartfren menunda uji coba jaringan 5G kedua akibat wabah Covid-19. Uji coba ini seharusnya dilakukan pada April 2020.

VP Technology Relations & Special Project Smartfren, Munir Syahda Prabowo mengatakan berbeda dengan uji coba pertama di sektor industri, uji coba kali ini dilakukan dalam bentuk layanan kepada pelanggan.

"Di tahun 2020 sebenarnya kita akan mengimplementasikan trial yang kedua yang berhubungan dengan layanan kepada pelanggan. Kalau yang pertama industri, jadi 5G digunakan oleh Smartfren untuk mendukung industri," ujar Munir.

Munir menjelaskan uji coba pertama pertama dilakukan di salah satu pabrik Sinarmas di Marunda. Saat itu, teknologi yang ditunjukkan dalam uji coba adalah dengan memasang kamera 360 derajat di jalur logistik pengiriman barang PT Sinarmas Agro Resources and Technology Tbk.

"Waktu itu di Marunda, salah satu pabriknya Sinarmas, bergerak di minyak goreng dan kita menggunakan untuk trial untuk mendukung kegiatan industri," jelas Munir.

Munir mengaku belum mengetahui sampai kapan uji coba 5G ditunda. Sebab ia mengatakan, pengiriman impor barang-barang untuk implementasi 5G juga harus tertunda akibat wabah Covid-19.

"Ya itu harus tunggu sampai Covid ini mereda. Karena ya tidak mungkin memasukkan saat ini untuk bisa digunakan di Indonesia. Karena kondisi Covid masih dalam belum diperbolehkan untuk menggunakan barang-barang luar," ujar Munir.

(jnp/mik)

[Gambas:Video CNN]