NASA Rilis Video Pergerakan Matahari Selama 10 Tahun

CNN Indonesia | Senin, 29/06/2020 16:01 WIB
Sejumlah wisatawan menyaksikan matahari terbit (sunrise) di Pantai Sanur, Bali, Rabu (6/5). Panorama matahari terbit yang indah menjadi daya tarik wisatawan yang berkunjung ke Pantai Sanur pada pagi hari. ANTARA FOTO/Fikri Yusuf/Rei/ama/15. Ilustrasi Matahari. (ANTARA FOTO/Fikri Yusuf)
Jakarta, CNN Indonesia --

Badan Antariksa Amerika (NASA) merilis video time-lapse atau pergerakan Matahari selama kurun waktu 10 tahun. Pergerakan ini berhasil dibidik oleh Solar Dynamics Obervatory (SDO) NASA.

Video tersebut bertajuk 'A Decade of Sun'. Para astronom NASA menyusun 425 juta gambar Matahari dengan resolusi tinggi yang diambil setiap 0,75 detik sekali sejak 2 Juni 2010 sampai 1 Juni 2020.

Setiap detik video mewakili satu hari kehidupan Matahari. Selama dekade tersebut, Matahari mengalami perubahan seperti perlahan-lahan menggelegak dengan riak magnet besar yang dikenal sebagai bintik Matahari.


Berdasarkan video tersebut yang dikutip Space.com, bintik Matahari memuncak sekitar tahun 2014 sebelum menghilang lagi.

"Informasi ini telah memungkinkan penemuan baru yang tak terhitung jumlahnya terkait acar kerja bintang terdekat kita dan bagaimana hal-hal itu mempengaruhi tata surya," tulis NASA dikutip dari laman resminya.

NASA memerlukan tiga rangkaian instrumen SDO untuk menangkap gambar Matahari setiap 0,75 detik, salah satunya Instrumen Atmospheric Imaging Assemblyh (AIA).

Selama 10 tahun, ada salah satu adegan yang menampilkan panjang gelombang 17,1 nanometer yang merupakan gelombang ultraviolet ekstrim di lapisan atmosfer terluar Matahari.

Sementara SDO merekam gambar-gambar ini tanpa henti, ada beberapa gangguan yang juga terlihat dalam video. Ada momen di mana Bumi atau Bulan melintas di antara SDO dan Matahari. SDO tetap merekam gambar Matahari sampai saat ini, mencari tahu fakta-fakta baru mengenai bintang terdekat dari Bumi kita tersebut.

Lalu selama 10 tahun pergerakannya diamati, Matahari sempat mengalami fenomena 'lockdown' pada Mei 2020 atau bisa juga disebut Grand Solar Minimum (GSM).

[Gambas:Youtube]

Menurut Kepala Subbidang Informasi Iklim dan Kualitas Udara BMKG, Siswanto menjelaskan bahwa matahari secara alami memiliki variasi perubahan dalam jumlah energi yang dipancarkannya.

Dia berkata variasi yang sudah dikenal adalah variasi 11 tahunan dimana matahari memancarkan energi secara maksimum, yaitu pada saat bintik matahari dalam puncak banyak jumlah dan saat pancaran energinya rendah pada saat bintik matahari lebih sedikit.

"Variasi ini dapat diprediksi lebih presisi pada zaman sekarang," ujar Siswanto kepada CNNIndonesia.com pada 19 Mei 2020.

Siswanto menyampaikan hasil kajian iklim purba atau paleoklimatologi menggunakan berbagai proxy, yakni isotop pada berbagai lapisan sedimen purba menyimpulkan bahwa suhu permukaan bumi pada masa lalu dipengaruhi oleh fluktuasi luaran energi matahari ini.

Hal itu, kata dia terus berlangsung hingga digunakannya instrumen meteorologi sekitar setelah zaman pra-industri 1850an.

"Siklus matahari 11 tahunan, bersama faktor penyetir iklim (climate driver) lainnya, seperti aerosol letusan gunung api, perubahan kemiringan sumbu rotasi bumi, perubahan sirkulasi samudera, dapat menjelaskan perubahan naik dan turun (fluktuasi) suhu udara global, pada waktu itu hingga pertengahan abad 19, sekitar tahun 1950-an," ujarnya.

Lebih dari itu, dia berkata suhu udara permukaan global telah meningkat tajam dan tetap memiliki tren naik bahkan lebih tajam pada dekade akhir-akhir ini sejak 1959.

(din/DAL)

[Gambas:Video CNN]