Dampak Fenomena Aphelion, Kala Bumi Sangat Jauh dari Matahari

CNN Indonesia | Sabtu, 04/07/2020 23:16 WIB
Gerhana matahari di Jakarta, Kamis (26/12). CNN Indonesia/Adhi Wicaksono Ilustrasi matahari. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia --

Aphelion, yang merupakan kondisi jarak antara Bumi dengan Matahari mencapai titik yang terjauh, terjadi pada Sabtu (4/7) pukul 18.34 WIB. Hal ini disebut berdampak pada durasi musim di belahan bumi tertentu.

Saat Aphelion, bumi akan berjarak dengan Matahari sekitar 152.095.295 juta km menurut keterangan Pusat Sains Antariksa LAPAN lewat unggahan di akun Instagram mereka.

Jika dibandingkan 4 Juli 2019 lalu, Bumi dan Matahari berjarak lebih jauh yaitu 152.104.285 juta km seperti mengutip Earth Sky.


[Gambas:Instagram]

Fenomena Bumi menjauhi Matahari ini dikarenakan orbit Bumi tak sepenuhnya membentuk lingkaran sempurna, melainkan berbentuk elips dengan kelonjongan sekitar 1/60.

Dilansir Phys, Aphelion tidak berdampak terhadap perubahan musim. Sebab perubahan musim ini dihasilkan dari kemiringan Bumi pada porosnya.

Namun, dampaknya hanya mempengaruhi periode musim. Misalnya, saat ini masyarakat yang tinggal di belahan Bumi bagian utara sedang dilanda musim panas karena adanya kemiringan pada poros utara Bumi dari Matahari.

Selain itu, masyarakat yang tinggal di Bumi bagian selatan bakal merasakan musim dingin yang lebih panjang. Fenomena periode musim yang lebih panjang ini dikenal sebagai Siklus Milankovitch, istilah ini pertama kali diungkapkan oleh astronaut Milutin Milankovic tahun 1924.

Aphelion berasal dari dua kata dalam bahasa Yunani, yaitu 'apo' yang artinya jauh dan 'helion' yang merupakan dewa Matahari dalam peradaban Yunani Kuno.

Artinya, Aphelion menunjukkan sebuah benda langit berada dalam titik terjauhnya dengan matahari. Ada kebalikan dari Aphelion yaitu Perihelion, titik terdekat Bumi dengan Matahari.

Bulan Juli ini, memang banyak fenomena-fenomena langit yang akan terjadi. Salah satunya puncak fase purnama akan terjadi pada 5 Juli 2020, tepat satu hari setelah Aphelion.

Ketika purnama, Bulan akan berjarak 379.148 km dari Bumi dengan diameter tampak sebesar 31,5 menit busur.

Selain itu gerhana bulan penumbra juga akan terjadi pada 5 Juli 2020. Namun, tidak bisa disaksikan oleh masyarakat di Indonesia karena Bulan sudah berada di bawah ufuk.

Wilayah yang bisa menyaksikan gerhana bulan penumbra adalah Kanada, Amerika Serikat, Meksiko, dan negara-negara di Kepulauan Karibia.

Lalu ada juga konjungsi Bulan dan Jupiter juga terjadi pada tanggal 5-6 Juli 2020. Waktu terbaik untuk mengamati adalah ketika fajar bahari/nautika, yaitu sekitar jam 05.00 WIB dengan jarak pisah 2 derajat.

Saat itu, posisi Jupiter berada di sebelah utara atau kanan Bulan.

(DAL)

[Gambas:Video CNN]