Penjelasan BMKG Soal Gempa Magnitudo 5,2 di Yogyakarta

Jonathan Patrick, CNN Indonesia | Senin, 13/07/2020 07:23 WIB
ilustrasi gempa Ilustrasi. (Foto: Istockphoto/ Petrovich9)
Jakarta, CNN Indonesia --

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat gempa berkekuatan 5,2 magnitudo di wilayah Yogyakarta pada Senin (13/7) dini hari. Pusat gempa berada di laut Selatan Jawa, 105 kilometer ke arah barat daya dari Bantul.

Kepala Bidang Mitigasi Gempabumi dan Tsunami, Daryono mengatakan gempa terjadi akibat aktivitas subduksi lempeng di Samudra Hindia.

"Pagi ini pukul 2.50 WIB terjadi gempa M 5,1 kedalaman 46 km bersumber di Samudra Hindia. Guncangan dalam wilayah luas dari Pangandaran-Pacitan. Warga masih pada bobok jadi minim laporan. Laporan hanya dari Purworejo, Yogyakarta, Pacitan & Wonogiri. Gempa dipicu aktivitas subduksi lempeng," kata Daryono di Twitter, Senin (13/7).


Ia mengatakan belum ada laporan gempa terasa di Jawa Barat meski peta getaran mencatat cakupan gempa terasa dari Pangandaran hingga Pacitan.

Daryono menjelaskan mekanisme sumber gempa ini memiliki pergerakan naik (thrust fault). Pergerakan ini disebut merupakan ciri khas gempa tumbukan lempeng di zona megathrust.

"Gempa dirasakan di Pacitan, Purworejo, Yogyakarta, & Wonogiri. Meski shake map menunjukkan guncangan mencakup Pangandaran-Pacitan," ujar Daryono.

Ditarik kebelakang, Daryono mengatakan pusat gempa selatan Jawa pagi ini bersebelahan dengan pusat gempa M 8,1 yang menimbulkan kerusakan di Pulau Jawa pada 23 Juli 1943.

Kota-kota yang mengalami kerusakan akibat gempa pada saat itu adalah Cilacap, Tegal, Purwokerto, Kebumen, Purworejo, Bantul, dan Pacitan. Daryono mengatakan kala itu memakan 213 korban jiwa dan 2,1 ribu korban luka.

"Ahli geologi Belanda Van Bemmelen pada 1949 mengungkap bahwa korban meninggal akibat Gempa Jawa M 8,1 pada 23 Juli 1943 lebih dari 213 orang, sedangkan korban luka mencapai 2.096 orang, dan 15.275 rumah rusak di Jawa Tengah dan Yogyakarta," ujar Daryono.

(mik/mik)

[Gambas:Video CNN]