Catatan Epidemiolog Soal Kasus Corona DKI dan Solo Melonjak

CNN Indonesia | Selasa, 14/07/2020 10:42 WIB
Warga antre untuk mengikuti tes diagnostik cepat (Rapid Test) COVID-19 di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Ngagel, Surabaya, Jawa Timur, Senin (8/6/2020). Badan Intelijen Negara (BIN) terus melakukan tes diagnostik cepat (Rapid Test) dan tes usap (Swab Test) COVID-19  terhadap warga Kota Surabaya sejak Jumat (29/5/2020) untuk memutus rantai penularan COVID-19. ANTARA FOTO/Didik Suhartono/wsj. Ilustrasi virus corona Indonesia. (ANTARA FOTO/Didik Suhartono)
Jakarta, CNN Indonesia --

Ahli Epidemiologi Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman memberikan respons terkait melonjaknya jumlah kasus virus corona Covid-19 di sejumlah provinsi atau kota di Indonesia, dalam hal ini DKI JakartaJawa Timur, hingga Solo.

Dicky mengatakan angka tersebut akan terus naik mengingat 80 persen kasus positif ada pada Orang Tanpa Gejala (OTG). Dalam estimasi kasar, Ia mengatakan kasus positif masih di kisaran angka 10 persen dari total kasus yang belum terdeteksi.

"Maka diperkirakan angka kasus yang belum terdeteksi sejumlah 10 kali lipat dari kasus yang dilaporkan," ujar Dicky saat dihubungi CNNIndonesia.com, Selasa (14/7).


Provinsi seperti DKI Jakarta dan Jawa Timur, masing-masing memiliki 14.797 dan 16.877 kasus Covid-19 per 13 Juli. Angka ini lebih besar dua kali lipat dibandingkan Sulawesi Selatan dengan angka 8.097. Dan hampir tiga kali lipat dibandingkan jumlah kasus di Jawa Tengah (5.573) dan Jawa Barat (5.160).

Dengan angka di atas, Dicky mengatakan baik DKI Jakarta maupun Jatim sesungguhnya masih ada sekitar 100 ribu kasus yang belum terdeteksi.

"Artinya semisal Jatim bisa diprediksi kasar bahwa masih akan ada kasus yang harus ditemukan sejumlah 100 ribuan kasus dan demikian juga Jakarta," tutur Dicky.

Dicky menjelaskan  pola kenaikan ini sebetulnya bisa diprediksi, apabila Indonesia melakukan peningkatan cakupan testing baik secara nasional maupun daerah.

Dicky mengatakan dirinya sudah memprediksi pola penambahan kasus secara signifikan ini sejak Mei lalu. Ia mengatakan salah satu faktor penyebab penambahan kasus adalah banyaknya OTG yang tak terdeteksi.

"Salah satu yang menjadi sebabnya adalah pola penambahan eksponensial yang dimiliki Covid-19 akibat banyaknya OTG yang luput dari deteksi sehingga sebagian OTG ini (20 persen) akan menjadi superspreader terhadap penambahan 80 persen kasus baru," ujar Dicky.

Penambahan kasus Covid-19 ini juga disebabkan belum terbentuknya imunitas kelompok atau herd immunity di Indonesia. Dicky mengatakan seluruh dunia juga belum memiliki imunitas maupun kekebalan terhadap Covid-19.

"95 persen penduduk dunia belum punya kekebalan terhadap Covid-19," kata Dicky.

Dicky menyarankan agar pemerintah pusat maupun daerah tetap fokus pada strategi utama pandemi, yaitu tes, lacak dan isolasi. Dicky mengatakan strategi ini merupakan kunci untuk mendeteksi kasus Covid-19.

Adapun upaya untuk mendukung strategi utama ini, antara lain peran aktif publik dengan melakukan 3M (Masker, Menjaga Jarak, Mencuci tangan)

"Kita tidak punya pilihan lain selain fokus pada strategi utama pandemi, yaitu tes, lacak dan isolasi. semakin aktif dan masif hal ini kita lakukan maka kita akan meminimalisir jumlah orang yang membawa virus di masyarakat. Ini kuncinya," kata Dicky. 

Dicky juga menyarankan agar pemerintah mengurangi pergerakan orang-orang yang berisiko, seperti lanjut usia, anak, dan orang dengan komorbiditas (memiliki penyakit gejala).

"Orang-orang berisiko tetap banyak di rumah atau kerja dari rumah. Sekolah tetap daring sampai akhir tahun. Jangan mengambil risiko yang akan berkontribusi terhadap terjadinya lonjakan kasus baik kesakitan dan kematian," ujar Dicky.

Dicky juga meminta pemerintah untuk segera mengambil langkah peningkatan pengetesan agar tidak menjadi seperti Solo yang kini menyandang status zona merah Covid-19.

Menurut Dicky, faktor pengetesan sangat penting untuk mendeteksi penyebaran penyakit dalam sebuah pandemi. Jika tidak segera dilakukan pengetesan masif, semua wilayah berpotensi seperti Solo.

Selain itu, minimnya pengujian akan berdampak pada meningkatnya kasus positif di rumah sakit dan kematian. Lebih lanjut, ia menyatakan Indonesia tertinggal dari daerah lain dalam mendeteksi penyakit Covid-19.

Lebih lanjut, Dicky menyarankan pemerintah Solo untuk meningkatkan pengujian dengan menggunakan RT-PCR. Dia berkata pengujian itu harus dilakukan hingga positive rate 5 persen dan rasio minimal 1 persen dari total penduduk.

"Hal seperti ini sekali lagi saya tekankan berlaku untuk semua wilayah dimana pun. Jangan sampai mengklaim zona hijau, tapi rasio pengetesan tidak (sampai) 1 persen dari total penduduk dan positive rate nya tidak 3 persen," ujarnya.

(jnp/DAL)

[Gambas:Video CNN]