Analisis LAPAN Usai Banjir Bandang di Masamba Luwu Utara

CNN Indonesia | Sabtu, 18/07/2020 05:17 WIB
Warga memerhatikan rumah yang tertimbun lumpur akibat terjangan banjir bandang di Kecamatan Masammba, Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan, Rabu (15/7/2020). Banjir bandang yang terjadi akibat tingginya curah hujan tersebut mengakibatkan 16 orang meninggal dunia dan puluhan warga dilaporkan masih dalam pencarian, sementara ratusan rumah rusak berat dan hilang.ANTARA FOTO/Abriawan Abhe/aww. Ilustrasi banjir bandang di Sulawesi. (ANTARA FOTO/ABRIAWAN ABHE)
Jakarta, CNN Indonesia --

Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) menganalisa perubahan penutup lahan, curah hujan, serta struktur geomorfologi & geologi di Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi untuk mengungkap peristiwa banjir bandang pada tanggal 13 Juli 2020. 

Hasil analisa penutup lahan menunjukkan tidak ada perubahan yang cukup signifikan baik untuk penutup lahan hutan, pertanian, maupun lainnya.

Dalam analisanya LAPAN menggunakan data satelit Landsat yang sudah di mosaik bebas awan pada 2010 dan 2020.


"Hasil ini masih perlu dikaji lebih mendalam karena ada beberapa spot pembukaan lahan yang belum nampak jelas dari citra satelit yang digunakan. Diperlukan satelit resolusi yang lebih tinggi untuk analisa lebih lanjut," kata  Deputi Bidang Penginderaan Jauh LAPAN Rokhis Komaruddin kepada CNNIndonesia.com, Jumat (17/7).

Selain penutup lahan, tim LAPAN yang dikomandoi oleh Rokhis menganalisa curah hujan pada tanggal 11 sampai 13 Juli 2020. Dari data satelit Himawari - 8  dapat dilihat terdapat hujan dengan intensitas yang cukup lama pada tanggal 12 Juli hingga 13 Juli dari sekitar jam 22.00 WITA sampai jam 6.00 WITA.

"Kemudian pada siang hari sekitar jam 13.00 WITA kembali terjadi hujan dengan intensitas yang lama sampai malam hari ketika terjadi bencana banjir bandang. Curah hujan membawa pengaruh yang signifikan sebagai pembawa material lumpur dan ranting pohon dari wilayah hulu sungai," kata Rokhis.

Tim LAPAN juga menganalisa struktur geomorfologi dan geologi di Kabupaten Luwu Utara. Hasil analisa  memperlihatkan wilayah hulu sungai Sabbang, sungai Radda, dan sungai Masamba merupakan perbukitan yang sangat terjal dan kasar yang dibentuk dari patahan-patahan akibat proses tektonik pada masa lampau.

Banyaknya patahan yang terdapat di wilayah ini menyebabkan struktur batuan atau tanahnya tidak cukup kuat untuk mempertahankan posisinya.

"Hal ini menyebabkan mudah terjadi longsor yang apabila terakumulasi dapat terjadi banjir bandang," ujar Rokhis.

Dukungan data satelit penginderaan jauh setelah kejadian banjir masih diperlukan dengan terus mencari data satelit baik melalui stasiun bumi yang dimiliki oleh LAPAN atau melalui komunitas internasional terkait dengan kebencanaan.

Saat ini Tim LAPAN bersama dengan tim dari Center of Remote Sensing ITB, Universitas Hasanudin, dan Asian Institute of Technology (AIT) masih terus menganalisa daerah yang rusak akibat banjir bandang di kota Masamba.

(jnp/DAL)

[Gambas:Video CNN]