Eks Pegawai Facebook Kembali Kritik Keras Mark Zuckerberg

CNN Indonesia | Sabtu, 25/07/2020 10:18 WIB
Eks pegawai Facebook kembali mengkritik Mark Zuckerberg yang dinilai pro terhadap kekuasaan Trump dan mengabaikan suara hak sipil. Ilustrasi Facebook. (AP Photo/Richard Drew)
Jakarta, CNN Indonesia --

Mantan pegawai Facebook, Max Wang menyatakan Facebook terjebak dengan ideologi kebebasan berekspresi sehingga mengabaikan hal yang lebih mendasar, salah satunya soal kemanusiaan.

Wang yang merupakan seorang insinyur itu menuding kebijakan CEO Facebook Mark Zuckerberg dan di internal perusahaan belakangan telah membahayakan orang.

Melansir The Verge, Wang mengkritik cara perusahaannya dalam mengambil tindakan atas postingan Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada kerusuhan di Minneapolis. Ia pun membandingkan kebijakan Facebook dengan Twitter.


"Facebook memilih untuk tidak mengambil tindakan apa pun dan membiarkan postingan Trump tentang penembakan dan penjarahan dimulai. Sementara Twitter berani melabeli kicauan Trump yang mengagungkan kekerasan," ujar Wang.

Tak hanya itu, Wang menilai pertemuan Zuckerberg dengan pegawai beberapa waktu lalu seolah sebagai hal yang tidak membuahkan hasil. Sebab, Zuckerberg lebih memilih memberi alasan ketimbang memperbaiki kebijakan perusahaan.

Wang menyampaikan penjelasan Zuckerberg tersebut juga mendorong pemogokan virtual oleh puluhan karyawan Facebook pada 1 Juni 2020.

Melansir BuzzFeed News, Wang menyebut kepemimpinan perusahaan telah mengkhianati kepercayaan yang telah diberikan oleh karyawan. Saat ini, dia menyebut penanganan Facebook atas sejumlah polemik berubah dan menyebabkan krisis kepercayaan.

Mantan bos iklan Facebook, Yaël Eisenstat mengatakan kekhawatiran karyawan mencerminkan pengalamannya di perusahaan. Dia yakin hal itu juga akan mempengaruhi pemilihan umum Amerika Serikat pada November mendatang.

"Semua langkah ini mengarah pada situasi di mana sebagian pengguna Facebook tidak akan mempercayai hasil pemilihan karena mereka telah dibombardir dengan pesan di Facebook," kata Eisenstat.

Dia mengatakan tim kebijakan perusahaan Facebook yang dipimpin oleh Joel Kaplan berusaha mempengaruhi keputusan untuk tidak menghapus postingan Trump. Tindakan yang dilakukan Kaplan secara otomatis telah membuat karyawan marah dan prihatin.

"Ini membuat marah karyawan Facebook, mereka membuat marah seluruh komunitas hak-hak sipil, mereka membuat marah para pengiklan Facebook," ujarnya.

Menanggapi pernyataan Wang hingga Eisenstat, juru bicara Facebook mengatakan perusahaan memiliki proses kebijakan yang ketat dan transparan dengan karyawan tentang bagaimana keputusan dibuat.

"Keputusan konten di Facebook dibuat berdasarkan aplikasi terbaik kami, kebijakan publik, seperti yang tertulis. Akan selalu menjadi kasus bahwa kelompok orang, bahkan karyawan, melihat keputusan ini sebagai tidak konsisten," kata juru bicara Facebook.

(jps)

[Gambas:Video CNN]