BMKG Sebut Wilayah yang Alami Dingin Ekstrem Seperti Dieng

CNN Indonesia | Kamis, 30/07/2020 13:05 WIB
BMKG memaparkan wilayah yang kemungkinan mengalami suhu dingin ekstrem di malam hari akibat musim kemarau seperti Dieng. Cuaca dingin ekstrem di Dieng (ANTARA FOTO/Idhad Zakaria)
Jakarta, CNN Indonesia --

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebutkan berbagai daerah yang mengalami penurunan suhu dingin ekstrem di beberapa wilayah di Indonesia seperti Dieng saat musim kemarau.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Herizal menjelaskan secara umum penurunan suhu terjadi di daerah dataran tinggi. Penurunan suhu ini bersamaan dengan puncak musim kemarau pada bulan Agustus.

"Semakin cerah langit di musim kemarau akan semakin dingin udara dirasakan pada malam hari. Daerah dataran tinggi seperti Bandung, Malang dan Dieng adalah daerah yang lebih merasakan suhu dingin di malam hari," ujar Herizal saat dihubungi CNNIndonesia.com, Rabu (29/7).


BMKG mencatat suhu udara di Kota Bandung pada Rabu pagi mencapai suhu terendah di 16 derajat Celsius. Sementara di Lembang mencapai 13,6 derajat Celcius.

Sebelumnya, beberapa warganet turut melaporkan udara dingin di daerah Dieng dan Bandung. Suhu di Dieng bahkan dilaporkan suhu sampai menyentuh angka minus 4 derajat Celcius.

Di sisi lain, Kepala Sub Bidang Produksi Informasi Iklim dan Kualitas Udara BMKG, Siswanto menjelaskan kota-kota di bagian selatan Jawa dan Bali  juga menunjukkan suhu yang relatif lebih dingin dibandingkan bagian utara Jawa.

"Musim kemarau memang salah satu cirinya adalah suhu terasa lebih panas terik pada tengah hari, namun lebih dingin pada malam hingga pagi hari," ujar Siswanto.

Siswanto menjelaskan hal tersebut terjadi karena  ketiadaan atau berkurangnya awan dan kering hujan yang lama menjadikan panas radiasi Matahari yang diterima (siang hari) dan yang dilepas (malam hari) lebih maksimum.

"Selain wilayah-wilayah bagian selatan yang akan terkesan dengan suhu yang lebih dingin disebabkan faktor faktor di atas, suhu akan menjadi lebih dingin lagi di wilayah pegunungan, seperti di Dieng yang dapat mencapai titik beku," kata Siswanto.

Siswanto mengatakan titik beku di Dieng yang menyebabkan embun es, disebabkan suhu yang menurun mengikuti ketinggian tempat. Suhu permukaan di dataran rendah yang sudah lebih dingin dari biasanya kali ini, akan menurun secara bertahap sesuai ketinggian tempat.

Suhu udara akan turun sebesar 0,65 celsius untuk setiap 100 meter atau turun 6,5 derajat untuk setiap 1 km beda ketinggian (altitude) suatu tempat.

"Apabila ketinggian tempat, kondisi cuaca cerah, dan bentuk topografi mendukung, maka dapat dimungkinkan terbentuk embun es, seperti embun es yang terjadi di Kawasan Candi Arjuna Dieng," kata Siswanto.

Penyebab minim awan di kala musim kemarau

Minimnya awan ini disebabkan oleh angin monsun Australia dominan yang mengalirkan massa udara dingin dan kering dari Benua Australia menuju Asia melewati Samudera Indonesia dan wilayah Kepulauan Indonesia.

Penguatan monsun Australia biasanya berkaitan dengan perkembangan sistem tekanan tinggi di atmosfer di atas Benua Australia yang mendorong masa udara memiliki aliran yang lebih kuat dari biasanya.

BMKG mengatakan wilayah di selatan ekuator, seperti Nusa Tenggara, Bali, Jawa dan Lampung sedang mengalami musim kemarau. Puncak musim kemarau diprediksi akan terjadi pada Agustus.

"Menjelang dan pada puncak musim kemarau, angin monsun Australia dominan mewarnai cuaca Indonesia di wilayah selatan ekuator yang ditandai langit cerah  sepanjang hari dan kelembaban rendah," kata Herizal.

(jnp/eks)

[Gambas:Video CNN]