Fakta Rapid Test yang Kerap Disebut Ngawur Deteksi Covid-19

CNN Indonesia | Selasa, 11/08/2020 14:36 WIB
Belakangan muncul anggapan di tengah masyarakat bahwa deteksi dini virus corona Covid-19 menggunakan rapid test sering tidak akurat. Ilustrasi rapid test virus corona. (CNN Indonesia/ Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia --

Rapid test merupakan pemeriksaan antibodi atau zat yang dibentuk secara alami oleh tubuh, guna merespons bakteri atau virus yang menyerang. Antibodi ini terbentuk dan berada dalam darah di tubuh manusia. Pemeriksaan cepat massal ini juga digunakan sebagai deteksi dini penularan virus corona (covid-19) di Indonesia.

Namun, beberapa orang yang berasal dari masyarakat sipil hingga pakar menganggap bahwa Rapid test bukan merupakan teknik deteksi awal Covid-19 yang akurat.

Apalagi setelah Pemerintah menerapkan kebijakan surat keterangan bebas Covid-19 melalui rapid test, sebagai salah satu hal 'wajib' naik transportasi jarak jauh, seperti Kereta Api.


Belum lama ini, masyarakat Bali yang tergabung MANUSA, yang terdiri dari Komunitas Bali Tolak Rapid dan Front Demokrasi Perjuangan Rakyat (Frontier) Bali menggelar demonstrasi di Monumen Perjuangan Rakyat Bali (26/7) lalu.

Mereka menganggap, kebijakan Pemprov Bali yang mewajibkan hasil rapid dan swab test sebagai syarat administrasi sertifikasi new normal serta syarat perjalanan dinilai merupakan bentuk bisnis yang berkedok kesehatan. Aksi tersebut juga diikuti drummer Superman is Dead (SID), Jerinx.

Jerinx memang sempat menjadi perbincangan banyak orang terkait teori konspirasi yang diyakininya. Teori konspirasi yang paling menyita perhatian publik adalah virus corona buatan elite global.

Teranyar, ia dilaporkan oleh Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Bali ke Polda Bali terkait dugaan pencemaran nama baik dan ujaran kebencian yang diunggah di akun Instagramnya. IDI Bali melaporkan Jerinx pada 16 Juni lalu, unggahan Instagram yang dipermasalahkan yakni tentang tuduhan bahwa IDI dan rumah sakit sebagai 'kacung' WHO.

Untuk mengetahui lebih detail dan mendalam terkait rapid test yang sering' ngawur', berikut ini adalah rangkuman pendapat pakar yang disampaikan kepada CNNIndonesia.com. Yang menyatakan bahwa Rapid test bukan cara utama, sebagai prosedur deteksi awal virus corona.

1. Hanya Mendeteksi Antibodi yang Lambat Terbentuk

Ahli Epidemiologi dari Universitas Indonesia Pandu Riono mengatakan Pemerintah perlu menggencarkan tes Polymerase Chain Reaction (PCR) untuk pendeteksian dini kasus Covid-19.

Pasalnya, rapid test yang yang berlandaskan antibodi, hanya cocok untuk digunakan sebagai survei serologi, bukan untuk pendeteksian awal.

"Saya tidak setuju  penggunaan test antibodi untuk screening. Test antibodi itu untuk survei serologi," kata Pandu, Selasa (23/6) lalu.

Menurut Pandu, pemeriksaan ini hanya mendeteksi antibodi yang lambat terbentuk. Jadi apabila antibodi belum terbentuk ketika orang terjangkit Covid-19, hasil rapid test akan mengeluarkan hasil negatif.

2. Lebih Cocok untuk Contact Tracing

Wakil Kepala Bidang Penelitian Fundamental Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Herawati Sudoyo mengatakan. Rapid test ini hanya menggambarkan apakah orang pernah terpapar virus corona atau belum, dan bukan mendeteksi orang terinfeksi corona atau tidak.

Di sisi lain, Hera mengatakan metode rapid test cocok diterapkan untuk contact tracing. Jenis tracing ini ditujukan untuk memberikan informasi kepada publik yang berpotensi melakukan kontak langsung dengan pasien.

"Tes antibodi massal hanya mengetahui 'pernah kontak' dengan virus. Cocok untuk 'contact tracing'," ujar Hera, Kamis (26/3).

3. Sensitivitas Rendah Sebagai Deteksi Dini

Pakar biologi molekuler Ahmad Rusdan Utomo menyebut literatur positivitas skrining individu di fase awal menggunakan rapid test antibodi sensitivitasnya berkisar antara 20 hingga 30 persen.

Angka tersebut relatif sangat rendah untuk mendeteksi virus di tubuh pada permulaan. Padahal, cara yang tepat untuk memutus transmisi virus adalah dengan mengenali individu yang terjangkit di fase awal infeksi atau di fase individu masih berpotensi untuk menularkan virus ke orang lain.

Dia berkata di fase awal infeksi, yakni seminggu pertama pasca infeksi memperlihatkan jumlah Ribonucleic acid (RNA) berada dalam puncak.

"Perlu dipahami bahwa pembentukan antibodi selalu terjadi terlambat atau belakangan, terutama ketika pasien sudah mendekati kesembuhan atau mendekati ajal. Artinya maksimum terbentuk 3 hingga 4 minggu setelah tanggal terjadinya gejala pertama kali," ujar Agus, Jumat (15/5).

4. Tingkat Akurasi Rendah  

Ahli Epidemiologi dari Griffith University Australia Dicky Budiman mengatakan rapid test pada umumnya adalah tes antibodi yang belum memiliki akurasi yang tepat dan ideal. Sebab tes ini hanya mendeteksi bahwa seseorang pernah terinfeksi Covid-19.

Ia mengatakan rapid test antibodi memiliki tingkat akurasi yang rendah dan bisa menyebabkan false positive maupun false negative. Dicky juga mengatakan tes swab atau PCR merupakan standar teratas (gold standard) untuk mendeteksi kasus Covid-19.

Potensi hasil false negative (hasil negatif padahal sebetulnya pasien terinfeksi) dan potensi false positive (hasil positif padahal orang tersebut tidak terinfeksi)  dapat mengganggu program pengendalian pandemi.

"False negative sangat berbahaya karena membuat penderita tidak terdeteksi dan tetap menularkan. Akibat lainnya penderita yang tidak terdeteksi tersebut bisa telat mendapat perawatan," ujar Dicky, Selasa (23/6).

5. Butuh Pengulangan Tes Sehingga Tidak Efektif

Juru bicara pemerintah untuk penanganan Covid-19 Achmad Yurianto, yang juga menjabat sebagai Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan, mengatakan bahwa pemeriksaan rapid test perlu diulang kembali pasca 10 hari.

"Yang bisa dilakukan manakala pemeriksaan pertama negatif adalah mengulang kembali. Kita telah menyepakati bahwa kita akan mengulang kembali setelah 10 hari," kata Yuri melalui siaran langsung di laman YouTube BNPB, Selasa (24/3).

Pemeriksaan kedua dilakukan karena hasil tes negatif bukan jaminan tak terinfeksi. Dia mengatakan, bisa saja orang tersebut terinfeksi namun masih pada tahap awal lantaran antibodi belum terbentuk.

Selain itu, Yuri mengungkapkan, bahwa dalam proses pemeriksaan ini, membutuhkan waktu 6 hingga 7 hari agar antibodi terbentuk. Dari antibodi tersebut lah, kemudian identifikasi virus Corona bisa dilakukan.

Yuri turut menegaskan, bahwa jika pada tes kedua hasil masih menunjukkan negatif, maka orang tersebut masih dapat terancam terjangkit corona lagi. 

(khr/DAL)

[Gambas:Video CNN]