Kemenristek: Salah Gunakan Obat Covid-19 Bisa jadi Racun

CNN Indonesia | Jumat, 07/08/2020 07:28 WIB
Ketua Konsorsium Riset dan Inovasi Covid-19 Kemenristek/BRIN Ali Gufron Mukti menjelaskan proses menemukan obat butuh waktu yang tidak sebentar. Ilustrasi obat Covid-19. (Foto: iStockphoto/SARINYAPINNGAM)
Jakarta, CNN Indonesia --

Ketua Konsorsium Riset dan Inovasi Covid-19 Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek/BRIN) Ali Gufron Mukti menjelaskan proses menemukan obat butuh waktu yang tidak sebentar, terutama untuk penanganan corona. Ada beragam prosedur yang harus dilaksanakan agar obat tidak menjadi racun pada tubuh.

Sebelumnya klaim penemuan obat Covid-19 oleh Hadi Pranoto yang diakui terbuat dari herbal sempat menjadi sorotan di media sosial.

"Menemukan sebuah obat diperlukan proses sangat panjang karena menyangkut keamanan hidup masyarakat. Obat yang salah akan bisa menjadi racun dan berbahaya," ujar Ali, mengutip siaran resmi BNPB pada Jumat (7/8).


Menurut Ali proses menemukan obat diawali dengan penelitian yang memiliki berbagai tahapan agar aman untuk diimplikasikan kepada masyarakat. Ali juga mengungkapkan proses pertama dalam melakukan suatu penelitian yakni presentasi kepada kolega agar hasil penelitian bisa didiskusikan bersama mengenai kelayakannya.

"Oleh karena itu, biasanya orang melakukan penelitian membuat proposal terlebih dahulu. Selanjutnya proposal harus lulus dalam uji etika kelayakan yang diuji oleh Komite Etik. Jadi tidak bisa langsung mengklaim menemukan obat. Harus ada prosedur," ucap Ali.

Ali bilang pemerintah mengapresiasi siapa saja yang ingin ikut berpartisipasi dalam penemuan obat Covid-19. Pemerintah juga dikatakan siap memfasilitasi serta mendukung segala penelitian asalkan sesuai dengan koridor dan etika yang ada.

Ali menambahkan upaya memutus rantai penyebaran wabah corona sudah dilakukan dengan berbagai inovasi. Sejauh ini peneliti dan dosen di Tanah Air telah menghasilkan lebih dari 60 inovasi.

"Berbagai inovasi selama 4 bulan terakhir telah dihasilkan. Seperti robot perawat, rapid test kit dan lain sebagainya. Bahkan PCR yang biasanya kita impor, sekarang tidak. Peneliti Indonesia telah membuatnya," ujar dia.

"Ada juga mobile laboratory dimana laboratorium bisa menghampiri masyarakat. Itu juga inovasi yang dibuat oleh anak bangsa. Terakhir ventilator canggih yang dibuat oleh UGM, yang kalau kami impor itu bisa miliaran tapi ini hanya 450 juta," tutup Ali.

(ryh/mik)

[Gambas:Video CNN]