Dua Strategi Vaksin Corona Atasi Covid-19 di RI

CNN Indonesia | Jumat, 14/08/2020 13:00 WIB
Bio Farma mengungkap dua strategi yang disiapkan untuk mengatasi Covid-19 di Indonesia. Ilustrasi vaksin Covid-19 akibat infeksi virus corona SARS-CoV-2. Biofarma ungkap dua strategi penyediaan vaksin Covid-19 di Indonesia. (iStockphoto/nevodka)
Bandung, CNN Indonesia --

PT Bio Farma menyiapkan dua strategi dalam pengembangan vaksin Covid-19 di Indonesia untuk menangkal penularan virus corona SARS-CoV-2 di Indonesia.

Strategi jangka pendek adalah dengan menyediakan vaksin dengan mengandeng perusahaan biofarma China, Sinovac Biotech dan Coalition for Epidemic Preparedness Innovations (CEPI).

Sedangkan strategi jangka panjang adalah dengan memproduksi vaksin yang dikembangkan peneliti Indonesia melalui Konsorsium Riset dan Inovasi Covid-19.



"Bio Farma melakukan penyediaan vaksin melalui dua yaitu jangka pendek panjang. Kita ambil kolaborasi dengan internasional untuk jangka pendek. Sedangkan jangka panjang dengan Lembaga Biologi Molekuker (LBM) Eijkman, Baltbangkes untuk melakukan riset bersama," ujar Sekretaris Perusahaan PT Bio Farma Bambang Heriyanto di Bandung, Rabu (12/8).

Kandidat vaksin Indonesia yang dikembangkan Eijkman dkk diberi nama vaksin merah putih.

Progres pengembangan vaksin yang murni berasal dari Tanah Air ini sedang dalam fase memproduksi protein di dalam kultur sel mamalia setelah berhasil mengisolasi materi genetik antigen dari virus.

Hal senada diungkap Staf Khusus Menteri BUMN Bidang Komunikasi Publik Arya Sinulingga. Menurutnya, pemenuhan kebutuhan vaksin Covid-19 dalam negeri tak hanya andalkan dari satu produk saja.

"Jadi bukan berarti hanya satu produk saja. Kita siap berkerja sama internasional lainnya, di dalam negeri juga ada vaksin merah putih. Sehingga kita membuka ruang itu juga," kata Arya.

Beda teknologi

ilustrasi vaksin coronaPenyediaan vaksin dari China dan vaksin lokal disebut sebagai strategi pemenuhan vaksin Covid-19 di Indonesia. (iStockphoto/Vladans)

Bio Farma menjelaskan teknologi yang dipakai untuk mengembangkan vaksin Sinovac dan vaksin Merah Putih berbeda.

Vaksin asal China menggunakan vaksin konvensional dengan menggunakan metode menonaktifkan (inactivated) virus corona SARS-CoV-2.

Sedangkan Konsorsium Eijkman dkk membuat vaksin dari pengambilan protein yang berasal dari virus SARS-CoV-2 yang bernama Spike dan Nucleocapsid.

Kedua jenis protein ini adalah komponen dari virus corona yang bersifat sebagai antigen dan dapat memicu terbentuknya antibodi dalam tubuh manusia.

"Untuk jangka panjang sendiri melalui proses rekombinan dan ini sedang dikembangkan," ucap Bambang.

Direktur Operasi Bio Farma M Rahman Roestan menambahkan bahwa perseroan yang bergerak di bidang vaksin sudah menyiapkan kapasitas produksi kedua vaksin.

Butuh vaksin China agar cepat

Menurut Arya, pilihan terhadap vaksin buatan Tiongkok itu harus cepat dilakukan mengingat peta kebutuhan pengobatan Covid-19 sudah berskala global. Hal itu pula yang mengakibatkan adanya kompetisi ketat di berbagai negara dalam pemenuhan vaksin.

"Ini kan bagaimana secepatnya vaksinasi dilakukan. Sebenarnya banyak negara yang ingin rebutan kerjasama dengan Sinovac. Karena ini kan sudah tahap ketiga, hanya tinggal tambah sample saja. Kita beruntung  karena kerja sama ini," ungkapnya.

Arya menuturkan, tanpa langkah cepat maka pertaruhannya sangat mahal. Sebab kehadiran vaksin akan menentukan bagaimana situasi ekonomi dan juga politik sebuah negara.

"Kalau ada vaksin kan ekonomi aman, hubungan luar negeri juga aman. Karena tak menutup kemungkinan, maaf, negara yang tak divaksin maka negara lain akan menghindarinya. Konsekuensi ekonomi politiknya terjadi," tuturnya.

(hyg/eks)

[Gambas:Video CNN]