Epidemiolog Respons Fakta Jerinx SID Bebas Covid-19

M. Ikhsan, CNN Indonesia | Jumat, 28/08/2020 10:36 WIB
Jerinx mengatakan tidak tertular Covid-19 meski ia tiap hari melakukan kontak langsung dengan ribuan orang di Bali. Penggebuk drum Superman Is Dead, Jerinx terbebas dari Covid-19 setelah tes PCR. (Foto: ANTARA FOTO/FIKRI YUSUF)
Jakarta, CNN Indonesia --

Ahli Pandemi dan Epidemiolog dari Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman menanggapi pernyataan penggebuk drum Superman Is Dead, Jerinx mengungkap tidak tertular Covid-19 meski ia tiap hari melakukan kontak langsung dengan ribuan orang di Bali.

Jerinx menyatakan hal tersebut setelah dinyatakan negatif Covid-19 dalam tes swab berbasis PCR. Dicky membeberkan probabilitas seseorang terinfeksi Covid-19 dipengaruhi banyak faktor.

Faktor-faktor itu adalah prevalensi (jumlah kasus positif) lokasi domisili, lingkungan, usia dan jumlah interaksi dengan seseorang.


"Yang paling penting adalah lokasi, kalau dia kerjanya di RS menangani pasien ini tentu lebih besar, maka klaster RS atau layanan kesehatan tertinggi di dunia," ujar Dicky saat dihubungi CNNIndonesia.com, Kamis (27/8).

Ia juga membeberkan ada penemuan riset seseorang bisa positif Covid-19 setelah melakukan kontak dengan hampir dari 40.500 orang dalam watu lima minggu di tempat berpenduduk padat.

"Setelah kontak dengan 40,500 di riset itu, satu orang itu akan terinfeksi. Tapi sekali lagi itu bervariasi tergantung prevalensi dari lokasi atau wilayah di mana orang itu beraktivitas. Kemudian tergantung pada usia. Makin sepuh, probabilitas ini semakin meningkat," tutur Dicky.

Dicky menyambut positif tawaran Jerinx yang ingin diuji oleh Ikatan Dokter Indonesia (IDI) secara sukarela untuk menemukan penjelasan ilmiah mengapa ia tidak terinfeksi Covid-19.

Dicky menjelaskan adanya kemungkinan Jerinx pernah terkena Covid-19, namun tak menunjukkan gejala. Setelah sembuh, Jerinx kemudian memiliki imunitas terhadap Covid-19 yang bisa bertahan dua hingga tiga bulan.

"Kalau mau periksa ya bagus aja, mungkin dia pernah terinfeksi dan punya imunitas juga kan bisa, imunitas ini bisa dua hingga tiga bulan," ujar Dicky.

Dicky mengingatkan bahwa penyakit baru memang menimbulkan berbagai penyangkalan. Ia mengatakan sejarah mencatat hoaks, teori konspirasi, penyangkalan, dan xenophobia tumbuh subur di saat ada penyakit baru.

Hal ini timbul akibat timbulnya dampak yang sangat besar pada kehidupan sosial ekonomi masyarakat dalam jangka panjang. Selain itu ada sebagian orang yang merasa terancam baik kebebasan atau pun kenyamanan.

Studi literatur membuktikan bahwa dalam setiap pandemi mulai dari Smallpox di era Romawi, flu spanyol 1918 dan SARS tahun 2003 tidak semua orang akan merespon secara rasional dan berbasis sains.

"Jadi apapun itu yang menentang atau tidak percaya ini adalah kewajiban secara sains dari pemerintah setempat, itu adalah salah satu dari komunikasi risiko," tutur Dicky.

(jps/mik)

[Gambas:Video CNN]