Nasib Startup di Indonesia Usai Telkom Tutup Blanja.com

Jonathan Patrick, CNN Indonesia | Rabu, 02/09/2020 18:53 WIB
Sejauh ini berbagai perusahaan startup mencoba bertahan di tengah himpitan perekonomian, belum lagi hantaman pandemi Covid-19. Ilustrasi. (Foto: CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia --

Telkom menutup salah satu unit bisnis e-commerce Blanja.com. Alasan penutupan sebab perusahaan ingin fokus mengembangkan dan menangkap peluang bisnis e-commerce di segmen korporasi dan UMKM.

Sejauh ini berbagai perusahaan startup mencoba bertahan di tengah himpitan perekonomian, belum lagi hantaman pandemi Covid-19 yang mengharuskan sejumlah perusahaan gulung tikar. Namun tak sedikit startup bertahan justru mengeruk keuntungan kala pandemi Covid-19.

Mereka yang bertahan dinilai bisa memenuhi kebutuhan masyarakat meski saat itu ada status lockdown di sejumlah wilayah. CNNIndonesia.com merangkum performa startup Indonesia yang mengalami dampak dari pandemi Covid-19.


1. Gojek

Pada akhir Juni lalu, Gojek memutuskan untuk melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) sebanyak 430 karyawan atau sekitar 9 persen dari total karyawan perusahaan tersebut.

Gojek mengatakan terdapat layanan yang terpaksa dihentikan terkait dengan pandemi Covid-19, salah satunya adalah GoLife dan GoFood Festival. Penutupan layanan ini disebabkan adanya perubahan konsumen dengan menerapkan jaga jarak aman.

Kevin juga menuturkan layanan yang sulit dilakukan dengan mengedepankan jaga jarak aman atau physical distancing adalah seperti layanan pijat profesional di rumah, yakni GoMassage dan layanan jasa kebersihan rumah, yakni GoClean.

Co-CEO Gojek Kevin Aluwi dan Andre Sulistyo mengungkap perusahaan akan fokus pada bisnis inti dan menutup layanan yang sulit menerapkan physical distancing yakni layanan GoLife seperti GoMassage dan GoClean.

Strategi perusahaan adalah untuk memperkuat fokus pada bisnis inti (core business) yang memiliki dampak paling luas kepada masyarakat, yaitu bisnis transportasi, pesan-antar makanan dan uang elektronik.

Di tengah pembatasan sosial selama beberapa bulan terakhir, beberapa layanan Gojek mengalami kenaikan signifikan seperti misalnya layanan logistik yang mencatat pertumbuhan hingga 80 persen. Sementara itu transaksi layanan belanja kebutuhan sehari-hari naik dua kali lipat.

Namun di sisi lain, beberapa layanan yang melibatkan kedekatan secara fisik seperti GoLife yang terdiri dari GoMassage, GoClean dan GoFood Festivals mesti dihentikan.

Berdasarkan riset dari Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LD FEB UI), Gojek telah berkontribusi ke perekonomian nasional sebesar Rp104,6 triliun pada 2019. Angka ini merupakan kenaikan dibanding kontribusi Gojek pada 2018 yang mencapai Rp55 triliun.

2. Grab

Pada pertengahan Juni, Grab terlebih dahulu menempuh langkah Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terhadap 360 karyawan. Jumlah tersebut kurang dari 5 persen terhadap jumlah karyawan transportasi daring tersebut.

CEO dan Co-Founder Grab Anthony Tan mengatakan keputusan PHK bukan hal mudah. Namun, setelah mencoba segala kemungkinan untuk menghindari PHK, manajemen harus membuat keputusan demi jutaan mata pencarian orang yang bergantung di era tatanan hidup baru (new norma) di tengah pandemi covid-19.

Manajemen akan menghentikan beberapa proyek non-esensial, mengonsolidasikan fungsi-fungsi di perusahaan untuk efisiensi yang lebih besar, serta membentuk ukuran tim yang tepat untuk menyesuaikan kebutuhan bisnis.

Tidak hanya itu, Grab juga akan memperkuat layanan pengiriman makanan dan barang, serta mengalokasikan sebagian karyawan ke layanan tersebut untuk memenuhi kebutuhan konsumen yang meningkat di era new normal.

Membaca peluang pasar di era new normal, Grab meluncurkan layanan fintech Grab Financial Group (GFG). Bisnis baru Grab ini akan mengeluarkan layanan keuangan berupa investasi, pinjaman, dan kredit.

Di sisi lain, riset ang dilakukan oleh Center for Strategic and International Studies (CSIS) dan Tenggara Strategics pada Januari 2020 menyatakan Grab memberi kontribusi sebesar Rp77,4 triliun bagi ekonomi Indonesia pada 2019, meningkat 58 persen dari Rp48,9 triliun pada 2018.

3. Tokopedia

Tokopedia menjadi salah satu startup e-commerce yang meraih keuntungan di kala pandemi Covid-19. Pembatasan Sektor Berskala Besar (PSBB) membuat orang-orang semakin memiliki waktu yang lebih banyak untuk belanjan online dari rumah.

Kepada CNNIndonesia.com, Tokopedia menyatakan saat ini Tokopedia saat ini dikunjungi hampir 100 juta masyarakat Indonesia per bulannya.

Per Juli 2020, terdapat hampir 9 juta penjual di Tokopedia, yang hampir 100 persennyanya UMKM, bahkan 94 persennya adalah penjual berskala ultra mikro.

Tokopedia mencatat kenaikan jumlah penjual lebih dari 1,8 juta dari 7,2 juta sejak Januari 2020 lalu.

Tokopedia mengatakan terjadi pergeseran pola belanja dari offline ke online akibat pembatasan mobilitas di kala pandemi Covid-19 ini. Imbasnya jumlah pedagang online meningkat.

Data internal Tokopedia menunjukkan beberapa kategori produk yang banyak diminati masyarakat selama pandemi berlangsung. Salah satunya kategori Makanan dan Minuman. Pada kategori ini, kopi literan merk lokal merupakan salah satu produk paling populer.

Kategori Rumah Tangga juga terus meningkat signifikan. Dewa Collection Bali, salah satu contoh pegiat usaha lokal di kategori Rumah Tangga yang menjual produk anyaman benang 'makrame', mengalami lonjakan pesanan online di tengah pandemi hingga lebih dari 5x lipat.

Pada kategori Olahraga, peluncuran sepeda merek lokal Element Indonesia disambut antusiasme sangat tinggi dari masyarakat. Sebanyak 200 unit sepeda lipat terjual habis hanya dalam 40 detik lewat Tokopedia sehingga berhasil memecahkan rekor MURI untuk penjualan sepeda lipat terbanyak dalam waktu satu menit.

Pandemi juga mendorong berbagai kegiatan offline yang akhirnya digelar sepenuhnya secara online di Tokopedia.

Acara Jakarta Sneaker Day (JSD) ke-dua pada 27-30 Juli 2020 lalu, misalnya, mencatatkan peningkatan nilai transaksi menjadi lebih dari dua kali lipat dibandingkan dengan yang penyelenggaraan pertama. Produk hasil kreator lokal, seperti sepatu, tas ransel dan masker kain bermotif, menjadi yang paling dicari masyarakat.

Karena mereka, lebih dari 1 persen perekonomian Indonesia telah terjadi di atas Tokopedia. Selama pandemi COVID-19, pegiat usaha yang memiliki kanal pemasaran daring dinilai lebih tangguh. Mereka berhasil membuat bisnis tetap berjalan sehingga lapangan pekerjaan pun tetap dapat dipertahankan.

Portal diskon online CupoNation Indonesia merilis studi tentang situs belanja online yang paling banyak dikunjungi oleh masyarakat Indonesia sepanjang tahun 2019.

Data menyebut Tokopedia merupakan toko online yang paling banyak dikunjungi oleh masyarakat Indonesia dengan total pengunjung mencapai 1,2 miliar, dengan rincian 863.1 juta pengunjung dari web mobile dan 329.8 juta pengunjung dari desktop.

4. Shopee

Sama seperti Tokopedia, Shopee juga meraup keuntungan kala pandemi Covid-19 ini. Dari segi transaksi, Shopee mencatatkan pencapaian lebih dari 260 juta transaksi selama kuartal II.

Jika di rata-rata dalam sehari, maka Shopee berhasil mencatatkan lebih dari 2,8 juta transaksi. Jika dibandingkan dari tahun kuartal II 2019, Shopee mencatat adanya peningkatan lebih dari 130 persen.

Shopee pada periode kuartal II 2020 meraih peringkat 1 untuk aplikasi e-commerce dengan pengguna aktif terbanyak, jumlah unduhan dan total waktu dihabiskan pada sebuah aplikasi di Android berdasarkan riset dari App Annie.

Selama kuartal II 2020, Shopee melihat ada perubahan perilaku masyarakat yang berdampak terhadap pertumbuhan transaksi khususnya di e-commerce.

Perubahan tersebut membawa kebiasaan dan anggapan baru akan mudahnya memenuhi kebutuhan melalui e-commerce. Shopee mengatakan hal ini menjadi indikator positif bagi industri e-commerce.

5. Oyo

Pandemi Covid-19 dianggap merupakan sebuah musibah bagi startup yang bergerak di bidang akomodasi. Startup properti Oyo memecat sekitar 1.800 ribu orang karyawannya di China dan India.

Oyo telah memecat 5 persen dari 12 ribu karyawannya di China atau sekitar 600 orang. Sementara, di India, Oyo memecat 12 persen dari 10 ribu karyawan atau sekitar 1.200 orang.

Dikutip dari Bloomberg, Oyo berencana untuk menambah 1.200 orang lagi di India selama tiga hingga empat bulan ke depan. Dalam pernyataan resminya, perusahaan mengaku sedang melakukan restrukturisasi.

Di sisi lain, Country Head Emerging Business, Oyo Hotels and Homes Indonesia, Eko Bramantyo mengatakan data internal Oyo menunjukkan performa hotel Oyo perlahan mulai membaik.

"Tingkat okupansi yang berada di bawah 20 persen pada April 2020, kini mulai menunjukkan grafik peningkatan sejak Mei 2020, dengan 92 persen pemesanan selama pandemi dilakukan melalui kanal penjualan yang dikelola OYO seperti aplikasi, web, dan micro market selling OYO," kata Eko dalam keterangan resmi kepada CNNIndonesia.com.

Untuk meningkatkan okupansih Eko mengatakan Oyo meluncurkan program kualifikasi 'Sanitized Stay' di Indonesia yang sebelumnya telah diluncurkan di berbagai wilayah operasional OYO di Asia.

Program ini menerapkan standar baru untuk meminimalisir kontak fisik pada kegiatan operasional hotel mitra OYO selama pandemi dan pada fase new normal.

Dalam program ini terdapat protokol yang telah didesain berdasarkan peraturan pemerintah dan regulasi lainnya terkait dengan penerapan social distancing dan prosedur keselamatan selama pandemi.

6. Traveloka

Menurut data internal Traveloka yang diterima CNNIndonesia.com, tercatat sejak Februari 2020 Traveloka mengalami peningkatan drastis untuk permintaan refund (pengembalian uang) dan reschedule (perubahan jadwal).

Sebab, banyak masyarakat yang membatalkan perjalanan karena takut terjangkit virus Covid-19.

Permintaan refund dan reschedule meningkat sampai 10 kali lipat. Adapun kebijakan yang telah ditetapkan oleh partner menurut Traveloka merupakan dasar utama perusahaan dalam prosedur refund atau reschedule sebelum dapat memproses lebih lanjut permintaan pengguna.

Traveloka telah mengembalikan 90 persen dari sekitar 1 juta refund tiket penerbangan. Investor awal di Traveloka, East Ventures mengatakan pengembalian dana itu bernilai total 1,4 triliun rupiah.

(jnp/mik)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK