Ahli Respons WHO soal Tak Ada Vaksin Corona Hingga 2021

Jonathan Patrick, CNN Indonesia | Rabu, 09/09/2020 09:58 WIB
Ahli Biologi Molekul Sangkot Marzuki menanggapi pernyataan WHO yang tidak berharap ada vaksinasi dalam skala luas hingga pertengahan 2021. Ilustrasi vaksin corona. (Foto: AFP/NICOLAS ASFOURI)
Jakarta, CNN Indonesia --

Mantan Direktur Lembaga Biologi Molekuler Eijkman periode 1992-2014 Sangkot Marzuki menanggapi pernyataan Badan Kesehatan Dunia (WHO) yang tidak berharap ada vaksinasi dalam skala luas hingga pertengahan 2021.

Menurut Sangkot, pengumuman WHO karena lembaga itu berdasarkan informasi dari para ahli yang bisa diakui kebenarannya.

WHO membuat sebuah pernyataan berdasarkan bukti saintifik. Ia setuju dengan pernyataan WHO karena klaim vaksinasi massal seharusnya keluar setelah uji klinis selesai.


"Saya percaya itu [pernyataan WHO], vaksin-vaksin sekarang lagi uji klinis. Memang vaksinasi belum pasti karena masih menunggu uji klinis," kata Sangkot CNNIndonesia.com hubungi, Selasa (8/9).

Di sisi lain, Sangkot yang juga ahli Biologi Molekul menyoroti soal hasil uji klinis vaksin Merah Putih yang dikembangkan sejumlah ahli di Indonesia, maupun uji klinis oleh tiga perusahaan China yang sedang mengembangkan vaksin.

Terkait pengembangan vaksin corona di Indonesia tersebut, Ia menjelaskan apabila uji klinis itu berhasil, maka ia percaya vaksin Covid-19 bisa diedarkan pada awal 2021 sesuai dengan target Presiden Joko Widodo.

"Kalau uji klinis selesai tinggal kesiapan BioFarma dan Depkes untuk distribusi nasional dan program vaksinasi massal," ujar Sangkot.

Mengenai klaim pemerintah bahwa uji klinis vaksin dari Sinopharm, Sinovac, dan CanSino telah berhasil di luar Indonesia, Sangkot menyoroti bahwa hasil uji klinis bisa berbeda di Indonesia.

Sebab vaksin tersebut bisa memberikan respons berbeda bagi mutasi virus yang berada di Indonesia, bahkan ada pula perbedaan respons vaksin antar etnis.

"Belum tentu uji klinis China yang berhasil akan berhasil juga di Indonesia. Ada faktor manusia, faktor perubahan dan mutasi virus yang terjadi terus menerus. Jadi asumsinya disebut berdasarkan uji klinis yang berhasil di luar negeri sudah pasti akan berhasil di Indonesia," ujar Sangkot.

Senada dengan Sangkot, Kepala Laboratorium Rekayasa Genetika Terapan dan Protein Desain LIPI, Wien Kusharyoto mengatakan vaksinasi massal memang tetap harus menunggu hasil uji klinis fase III dari berbagai vaksin yang sedang diuji saat ini.

"Setelah itu perlu dilalui proses perizinan dan logistik terkait produksi, distribusi dan pelaksanaan vaksinasinya," kata Wien.

Wien juga menjelaskan uji klinis fase III juga diiringi langsung dengan persiapan sedini mungkin untuk mengantisipasi adanya vaksin yang memenuhi kriteria efektif dan aman berdasarkan hasil uji klinis tahap III.

"Setelah itu tetap harus dilakukan pengawasan atau monitoring terhadap efektivitas dan keamanan vaksin setelah vaksin digunakan oleh masyarakat," tutur Wien.

(jnp/mik)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK