Roket China Jatuh ke Bumi, Timbulkan Gas Beracun

CNN Indonesia | Selasa, 15/09/2020 19:26 WIB
Roket pendorong buatan China Long March 4B jatuh ke Bumi dan menghantam tanah di dekat sekolah usai menjalankan misi. Ilustrasi. (Foto: NASA)
Jakarta, CNN Indonesia --

China kembali sukses mengirim satelit ke luar angkasa dengan bantuan roket pendorong Long March 4B. Namun, roket pendorong itu jatuh ke Bumi dan menghantam tanah di dekat sekolah usai menjalankan misi.

Dalam video yang diposting di media sosial, gumpalan asap yang berasal dari roket pendorong tampak sangat besar dan berwarna oranye. Sejumlah pihak menyebut gumpalan asap itu akibat bahan bakar roket pendorong yang terbakar setelah menghantam bumi.

Melansir BGR, China belum merilis laporan penyakit atau cedera apa pun akibat insiden tersebut. Selain itu, belum ada juga laporan resmi kerusakan akibat kejadian itu.


Sejumlah pihak pesimis China akan mengeluarkan keterangan resmi. Sebab, China terkenal bungkam tentang sebagian besar hal yang terkait dengan program luar angkasa.

Melansir Ars Technica, roket Long March 4B diluncurkan dari Pusat Peluncuran Satelit Taiyuan di China dengan membawa satelit penginderaan jauh. Pelabuhan antariksa berusia 50 tahun itu terletak di utara-tengah Cina, sekitar 500 km di barat daya Beijing.

Tidak seperti kebanyakan pelabuhan antariksa dunia, beberapa lokasi peluncuran China terletak di lokasi pedalaman daripada di dekat air untuk menghindari bahaya seperti saat Long March 4B jatuh.

Untuk tujuan keamanan, China dikabarkan membangun tiga pusat peluncuran utamanya jauh dari air selama Perang Dingin, di tengah ketegangan dengan Amerika dan Uni Soviet.

Dalam beberapa tahun terakhir China telah mulai bereksperimen untuk mengarahkan roketnya kembali ke Bumi seperti yang dilakukan SpaceX dengan roket Falcon 9-nya. Namun proyek ini tampaknya lebih didorong oleh keinginan untuk menguasai teknologi penggunaan kembali daripada melindungi populasinya masyarakatnya dari ancaman.

Yang memperparah masalah menjatuhkan roket pada tahap pertama di pedesaan sekitarnya adalah bahwa China terus menggunakan bahan bakar hidrazin beracun untuk tahap pertamanya. Hidrazin, yang merupakan dua nitrogen yang diikat oleh atom hidrogen adalah bahan bakar yang efisien dan dapat disimpan. Tapi itu juga sangat korosif dan beracun.

Pada April 2019, pesawat ruang angkasa Crew Dragon meledak selama pengujian dan menghasilkan awan besar gas oranye beracun yang dapat terlihat bermil-mil di sekitar pantai Florida.

Awan kemerahan itu disebabkan oleh nitrogen tetroksida, oksidator yang terbakar dengan bahan bakar hidrazin. Pesawat ruang angkasa i itu dan banyak lainnya di masa lalu, termasuk pesawat ulang-alik menggunakan propelan yang dapat disimpan untuk operasi di luar angkasa.

NASA telah bekerja untuk menemukan propelan khusus yang akan meniadakan penggunaan hidrazin bahkan untuk operasi di luar angkasa.

Sementara sebagian besar armada peluncuran China didukung oleh bahan bakar hidrazin dan pengoksidasi nitrogen tetroksida. Ini termasuk roket Long March 2F serta keluarga Long March 4.

(jps/mik)

[Gambas:Video CNN]