Ahli Indonesia Duga SARS-CoV-2 Bermutasi Sejak 70 Tahun Silam

Jonathan Patrick, CNN Indonesia | Kamis, 24/09/2020 08:51 WIB
Ahli biologi molekuler Ahmad Rusdan Handoyo menduga virus corona SARS-CoV-2 bermutasi sejak puluhan tahun silam. Ilustrasi virus corona SARS-CoV-2. (Foto: iStockphoto/BlackJack3D)
Jakarta, CNN Indonesia --

Ahli biologi molekuler Ahmad Rusdan Handoyo menduga virus corona SARS-CoV-2 yang menyebabkan pandemi Covid-19 sudah ada sejak 50 sampai 70 tahun lalu.

Menurut Ahmad, virus corona mengalami mutasi dan menjangkiti manusia, namun ada yang bereaksi memperburuk kesehatan manusia dan tidak. Sementara itu, SARS-CoV-2 disebut Ahmad kemungkinan sudah ada di mutasi virus corona yang pertama kali tercatat sebagai patogen sekitar puluhan tahun silam.

"Bisa jadi SARS-CoV-2 sebenarnya sudah ada itu bahkan mungkin 50 sampai 70 tahun lalu dia sudah mulai ada dari evolusi mutasi biasa," kata Ahmad dalam video yang diunggah akun YouTube pribadinya, dikutip Kamis (24/9).


Ahmad menegaskan virus corona bisa mengalami 20 mutasi per tahun. Sehingga, perbedaan SARS-CoV-1 dengan SARS-CoV-2 bisa sangat banyak.

"Jadi ini menunjukkan apa? Secara filogenetik ini bukan buatan manusia. Alam menunjukkan variasi alam luar biasa," ujar Ahmad.

Ahmad mengaku sepakat dengan peneliti China yang menyebut mutasi virus corona akibat dari kebiasaan warga China memakan satwa eksotis, seperti kelelawar.

"Sehingga, semakin sering manusia berinteraksi dengan satwa liar itu tinggal menunggu statistik saja, kebetulan dia akan ketemu dengan variasi yang cocok, yang salah satunya adalah SARS-CoV-2," ujarnya.

Dilansir dari situs University of Chicago, pada 1962 peneliti University of Chicago mengisolasi virus RNA yang sebelumnya tidak teridentifikasi selama penelitian terkait infeksi saluran pernapasan atas.

Para peneliti menandai virus baru ini dan menamakannya 229E (kemudian menjadi HCoV-229E). Pekerjaan awal, diterbitkan pada tahun 1966 di Experimental Biology and Medicine, dan studi lanjutan tahun 1967 di Journal of Virology mampu memberikan informasi awal tentang waktu pertumbuhan, ukuran virus dan gambar dari infeksi partikel virus dalam sel manusia.

Peneliti menunjukkan bahwa virus baru ini tidak bereaksi terhadap antiserum, serum darah yang mengandung antibodi, untuk virus utama yang diketahui, seperti strain influenza, campak atau gondongan.

Deskripsi ini merupakan virus corona pertama yang tercatat sebagai patogen dalam tubuh manusia.

(jnp/mik)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK