Ahli RI soal Covid-19 Dibuat di China: Teknologi Belum Mampu

CNN Indonesia | Rabu, 23/09/2020 15:38 WIB
Ahli biologi molekuler RI membantah tudingan ahli virus yang kabur ke AS Li Meng Yan tentang Covid-19 buatan ilmuwan di Wuhan, China. Ilustrasi virus corona dituding dibuat di China. (AFP/NICOLAS ASFOURI)
Jakarta, CNN Indonesia --

Ahli biologi molekuler Ahmad Rusdan Handoyo menyatakan virus corona SARS-CoV-2 yang menyebabkan pandemi Coivid-19 bukan buatan manusia. Dia mengatakan belum ada teknologi yang mampu merekayasa virus corona.

Pernyataan Ahmad sekaligus membantah tudingan ahli virus China yang kabur ke Ameriksa Serikat, Li Meng Yan tentang virus corona SARS-CoV-2 sebagai buatan ilmuwan di Institut Virologi Wuhan, China.

"SARS-CoV-2 ini kalau dari data yang ada menunjukkan bahwa ini teknologi manusia belum sampai," ujar Ahmad dalam video yang diunggah akun YouTube pribadinya, Selasa (23/9).


Ahmad menuturkan laporan yang dibuat oleh Yan dan koleganya tidak konsisten secara logika. Misalnya, dia mengaku heran mengapa Yan menuding SARS-CoV yang menyebabkan Middle East Respiratory Syndrome (MERS) sebagai dasar untuk membuat virus corona SARS-CoV-2.

Sebab, dia menyebut asam amino pada SARS-CoV-1 lemah. Sehingga, tidak optimal untuk mengikat Angiotensin-Converting Enzyme 2 (ACE2) yang ada di tubuh manusia.

"Jadi pertanyaan, kalau menggunakan komputer modeling, mengapa manusia menggunakan hasil komputer modeling yang prediksinya justru lemah? Ini yang menjadi pertanyaan besar," ujarnya.

Lebih lanjut, Ahmad membenarkan manusia saat ini bisa melakukan banyak hal. Akan tetapi, manusia belum bisa melakukan modeling dengan baik. Buktinya, asam amino pada SARS-CoV-2 justru 10 kali lebih kuat dari SARS-CoV-1.

"Ini yang mungkin bisa menjelaskan Covid-19 bisa mudah bereplikasi di rongga napas atas. Karena, begitu dia nempel di napas atas, dia punya cukup kait, dia bisa tumbuh di situ," ujar Ahmad.

"Sementara kalau yang SARS-CoV-1, karena dia lebih lemah, dia harus turun dulu ke bawah, ke paru-paru, baru dia bisa bereplikasi di situ," ujarnya.

Di sisi lain, Ahmad menilai Yan sebagai sosok inkonsisten karena banyak menuduh orang lain dan terkesan memaksakan laporannya. Selain itu, dia tidak sepakat furin pada SARS-CoV-2 direkayasa.

Padahal, dia menyebut furin pada SARS-CoV-2 bisa berasal dari organisme lain dan bukan sesuatu yang unik.

Tak hanya itu, Ahmad menegaskan virus corona bisa mengalami 20 mutasi per tahun. Sehingga, perbedaan SARS-CoV-1 dengan SARS-CoV-2 bisa sangat banyak.

Bahkan, dia menyebut virus corona kelelawar RaTG13 yang dituding Yan sebagai hal yang tidak benar merupakan hal yang salah. Sebab, dia juga menyebut RaTG13 memiliki perbedaan hingga 4 persen dengan SARS-CoV-2.

"Bisa jadi SARS-CoV-2 sebenarnya sudah ada itu bahkan mungkin 50 sampai 70 tahun lalu dia sudah mulai ada dari evolusi mutasi biasa," ujar Ahmad.

Lebih dari itu, Ahmad mengaku sepakat dengan peneliti China lain yang menyebut mutasi virus corona akibat dari kebiasaan warga China memakan satwa eksotis, seperti kelelawar.

"Sehingga, semakin sering manusia berinterkasi dengan satwa liar itu tinggal menunggu statistik saja, kebetulan dia akan ketemu dengan variasi yang cocok, yang salah satunya adalah SARS-CoV-2," ujarnya.

"Jadi ini menunjukkan apa? Secara filogenetik ini bukan buatan manusia. Alam menunjukkan variasi alam luar biasa," ujar Ahmad.

(jps/DAL)

[Gambas:Video CNN]